BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Menulis merupakan
salah satu keterampilan berbahasa yang dianggap penting dalam proses belajar
mengajar. Dikatakan demikian, karena kegiatan menulis cukup memberikan manfaat
dalam meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan. Bahkan banyak pekerjaan yang
tidak lepas dari kegiatan tulis-menulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
menulis dapat menunjang kelancaran aktivitas kehidupan manusia sehingga wajar
jika dikatakan tiada hari tanpa menulis.
Berkaitan dengan hal
tersebut, menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan berbahasa paling
akhir dikuasai pelajar bahasa setelah kemampuan mendengar, berbicara, dan
membaca. Jika dibandingkan dengan ketiga kemampuan berbahasa tersebut,
kemampuan menulis lebih sulit dikuasai bahkan penutur asli bahasa yang
bersangkutan sekali pun. Hal itu disebabkan kemampuan menulis memerlukan
penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang
akan menjadi isi karangan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi harus terjalin
sedemikian rupa sehingga menghasilkan karangan yang runtut dan padu.
Jika dalam kegiatan
berbicara harus menguasai lambang-lambang bunyi, maka kegiatan menulis
menghendaki penguasaan lambang atau simbol-simbol visual dan aturan tatatulis
khususnya yang menyangkut masalah ejaan. Unsur situasi dan linguistik yang
sangat efektif membantu komunikasi dalam berbicara, tak dapat dimanfaatkan
dalam menulis. Kelancaran komunikasi dalam suatu karangan sama sekali
tergantung pada bahasa yang dilambangkan. Karangan adalah suatu bentuk sistem
komunikasi lambang visual. Agar komunikasi lewat lambang tuis dapat diwujudkan
sesuai dengan keinginan yang diharapkan, penulis hendaklah menuangkan
gagasannya kedalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap.
Selanjutnya, kegiatan
menulis dianggap sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang harus didasari
pengetahuan seperti halnya pengetahuan dari ketiga keterampilan yang telang
disinggung sebelumnya. Hal ini tidak berarti bahwa ruang lingkup, proses, dan
wujudnya yang dihadirkannya identik karena menulis memiliki ruang lingkup,
proses, dan ciri perwujudannya sendiri.
Mengingat pentingnya
kegiatan menulis, dalam proses belajar mengajar di sekolah tetap diajarkan
kegiatan menulis dalam pelajaran bahasa Indonesia. Dengan diajarkannya
keterampilan menulis atau mengarang diharapkan siswa atau mahasiswa mempunyai
keterampilan dalam menulis yang selanjutnya dapat dimanifestasikan dalam
kehidupan sehari-hari meskipun tingkat kerumitannya lebih tinggi.
Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) bahasa Indonesia SMA dikemukan bahwa pada hakikatnya belajar bahasa
adalah belajar-berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Hal ini berarti bahwa
dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia selalu ada usaha-usaha yang terus menerus
untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Mengingat kegiatan
menulis atau mengarang dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang paling
sulit., baik dikalangan siswa atau mahasiswa maupun dikalangan guru sekali pun,
kegiatan menulis atau mengarang di kalangan siswa harus terus diajarkan. Hal
ini tentu berkaitan dengan tujuan peningkatan keterampilan berbahasa secara
berkesinambungan.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat dikatakan bahwa kemampuan menulis merupakan modal penting dalam
kehidupan seseorang, baik disekolah di luar sekolah. Kemampuan menulis dianggap
sebagai suatu bentuk komunikasi secara tertulis. Bahkan dapat dikatakan sebagai
suatu kebutuhan bagi setiap orang, terutama kepada siswa dalam kaitannya dengan
apa yang akan dihadapinya dalam kehidupan bermasyarakat seperti kegiatan surat
menyurat, promosi, pengantar acara resmi (pidato), dan karang-mengarang.
Akhadiah ddk (2000:
1) menyatakan bahwa:
“kemampuan menulis bagi siswa sekolah lanjutan amat
penting. Kemampuan menulis amat bermanfaat, baik ketika terjun ke masyarakat
maupun ketika melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Siswa yang akan
melanjutkan pendidikannya keperguruan tinggi memerlukan bekal kemampuan menulis
karena dalam proses perkuliahan banyak melinatkan kegiatan menulis. Kegiatan
menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses yang
dialami oleh siswa atau mahasiswa selama menuntut illmu di sekolah atau di
kampus.
Kegiatan
pengembangan pembelajaran menulis dapat dilakukan dengan kegiatan mengembangkan
logika, melatih daya imajinasi, merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai
kalimat menjadi paragraf. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya kreatifitas
siswa atau mahasiswa dalam mengasah kecerdasan mereka (Purwo dalam one.indoskripsi.com/skripsi-m...)
Kegiatan
menulis juga merupakan alat untuk belajar sekaligus berperan penting dalam
dunia pendidikan (Ambo Enre, 1998:3). Hal ini menunjukkan bahwa melalui
kegiatan menulis, secara langsung memungkinkan proses pengalihan berbagai
informasi, ilmu pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman bernilai fositif bagi
keberhasilan proses belajar si pembelajar. Dengan demikian, dunia pendidikan
sangat membutuhkan kegiatan menulis sebagai salah satu pertanda adanya kemajuan
dalam dunia pendidikan itu sendiri.
Menulis
merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis,
seorang penulis harus terampil memanfaatkan grofologi, struktur bahasa, dan
kosa kata (Kurniawan dalam one.indoskripsi.com/judul-skripsi-m...)
Kemampuan
menulis bukan saja berdampak positif dalam menyelesaikan tugas-tugas di
sekolah, melainkan dapat pula memberikan peluang untuk memperoleh
penghasilansebagai penulis artikel, penulis cerita fiktif, penulis buku, atau
sebagai wartawan.
Kemampuan
menulis yang memadai khususnya dalam karang-mengarang, tidak akan diperoleh
tanpa menguasai berbagai keterampilan, yaitu keterampilan memilih kata yang
tepat, membuat kalimat efektif, keterampilan menggunakan ejaan dan tanda baca,
serta keterampilan dalam menata setiap gagasan secara jelas dan tepat. Hal
inilah yang membuat kegiatan menulisatau mengarang bagi siswa atau bahkan
mahasiswa agak sulit berkembang karena tidak trampilnya siswa atau mahasiswa
menguasai hal tersebut di atas.
Adapun
penyebab tidak tercapainya tujuan pembelajaran menulis adalah: (1) rendahnya
tingkat penguasaan kosa kata sebagai akibat rendahnya minat baca, (2) kurangnya
penguasaan internal kebahasaan seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah
penulisan, diksi, penyusunan kalimat dengan stuktur yang benar, sampai
penyusunan paragraf, (3) kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang
sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa dan mahasiswa (Trimantara dalam one.indiskrips.com/judul-skrips-m...)
Kenyataan
tersebut telah banyak dibuktikan dari hasil penelitian yang telah dilakukan
oleh berbagai kalangan, baik mahasiswa lewat penelitiannya,guru melalui hasil
belajar siswanya, dan para peneliti bahasa yang telah melakukan penelitian
tanpa henti dengan berbagai bentuk dan jenisnya.
Dalam
pembelajaran menulis di SMA Muhammadiyah Bulukumba, menulis merupakan salah
satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Dalam kompetensi dasar
ini tertuang materi dan indikator yang harus dicapai. Salah satu materi
pembelajaran paragraf yang dimaksud adalah paragraf deduktif dengan indikator
di antaranya adalah dapat mengembangkan penalaran deduktif.
Kenyataan
di atas membuat penulis tertarik untuk mengkaji atau melakukan penelitian
dengan topik keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran
deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimanakah keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran
deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba?
C. Tujuan
Penelitian
Sesuai
dengan permasalahan yang telah disebutkan di atas, peneliti ini bertujuan untuk
mendeskripsikan keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran
deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.
D. Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberi
sumbangan pemikiran berupa inovasi dalam pembelajaran menulis paragraf.
2. Sebagai
masukan bagi guru bahasa Indonesia untuk menambah wawasan dan pengetahuan
tentang paragraf deduktif dan kalimat utama dan kalimat penjelas, dan
3. Memberi
masukan bagi peneliti selanjutnya, khususnya tentang menulis paragraf dengan
pola deduktif.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan
Pustaka
1. Penalaran
dalam Karangan
Suatu tulisan sebagai
hasil proses bernalar mungkin merupakan hasil proses deduksi, indiksi atau
gabungan keduanya. Dengan demikian suatu paparan dapat bersifat deduktif,
induktif atau gabungan antara kedua sifat tersebut. Suatu tulisan yang bersifat
deduktif dibuka dengan suatu pernyataan/umum berupa kaidah, peraturan, teori,
atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya, pernyataan itu akan dikembangkan
dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian yang bersifat khusus.
Sebaliknya, suatu tulisan yang bersifat induktif dimulai dengan rincian-rincian
dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara
keduanya dimulai dengan pernyataan umum yang diikuti dengan rincian-rincian dan
akhirnya ditutup dengan pengulangan pernyataan umum di atas.
Dalam praktek proses
deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan-satuan tulisan yang merupakan
paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang
mengandung gagasan utama yang dikembangkan dalam paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf deduktif dengan
kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif, dengan kalimat utama pada
akhir paragraf, dan ada pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan
akhirnya (Arifin, 1999: 12).
Proses deduktif dan
induktif itu juga diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan.
Paragraf-paragraf deduktif dan induktif mungkin digunakan secara bergantian,
bergantung kepada gaya yang dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang
ingin diberikannya. Karya ilmiah merupakan sistensi antara proses deduksi dan
induktif. Kedua proses itu terlihat secara jelas (Hadi, 1998: 32).
2. Jenis-Jenis
Penalaran
Sabarti
(2001: 41) menjelaskan bahwa menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis
mengenai suatu topik kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta,
membandingkan dan sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam
keadaan jaga (tidak tidur), kita selau berpikir. Berpikir merupakan kegiatan
mental. Pada waktu kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar
tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata; kegiatan ini mungkin tidak
terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat
kita melamun. Kegiatan berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan dan
bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan.
Jenis kegiatan berpikir yang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.
Proses
orang belajar berbahasa selalu dimulai dengan urutan menyimak, berbicara, dan
menulis. Meskipun posisi menulis disebut terakhir, wacana (untaian kalimat),
(d) memilih kosakata yang tepat, dan (e) menggunakan ejaan yang benar.
Menulis
paling tidak mengandung empat unsur. Keempat unsur itu meliputi, penulis
sebagai penyampai pesan atau isi, saluran atau sarana, dan pembaca sebagai
penerima pesan. Di samping itu, penulis juga mempunyai fungsi. Pertama, fungsi personal (ekspresi),
yaitu tulisan yang cenderung tidak memperhatikan aspek struktur dan bersifat
bebas. Kedua, fungsi transaksional
(praktik) yaitu tulisan yang memperhatikan interaksi dunia dengan cara
menuliskan cara menerapkan sesuatu. Ketiga,
fungsi artistik (puitik), yaitu tulisan yang berisi ekspresi ide.
Tulisan
yang baik untuk koheren, bebas dari kekeliruan, dan meiliki satu ide. Pola
tulisan yang baik memperhatikan tiga hal. Pertama
tujuan,. Pada tujuan ini difokuskan pada pertanyaan mengapa kita menulis?
Apakah untuk memberi informasi, mempengaruhi, atau menggambarkan sesuatu untuk
orang lain? Kedua, memperhatikan
pendengar dan pembaca. Pada bagian pendengar dan pembaca ini difokuskan pad
siapa yang akan mendengar dan membaca tulisan kita? Ketiga, memperhatikan tesis/maksud. Tesis/maksud di sini adalah apa
yang akan kita sampaikan? Apakah tentang kesehatan, pendidikan, keluarga,
peristiwa, dan sebagainya?
Kemampuan
menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif yang menurunkan simbol-simbol
grafis yang menggambarkan suatubahasa yang dimengerti, sehingga orang lain
dapat membaca sombol-simbol grafis itu (Tarigan, 2000: 21)
Menurut
Oka (1989: 76) kemampuan menulis berbahasa Indonesia diartikan sebagai
kemampuan dalam menggunakan bahasa Indonesia secara tertulis dalam
mengungkapkan diri dan hasil kejiwaannya, menuturkan pengalaman, baik pengalam
penulis maupun orang lain, dan memaparkan penghayatan penulis terhadap
lingkungan.
Berdasarkan
uraian di atas, dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya
penalaran merupakan proses berfikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan
berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak
ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran
induktif dan deduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.
a. Penalaran
Induktif
Penalaran
induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus,
prosesnya disebut induksi. Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi,
analogi atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran
berdasarkan pengamatan atas segala jumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu
mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi
kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan
terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah
hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat,
akibat-sebab, dan akibat-akibat (Sabarti, 2001: 41)
Contoh:
Suatu lembaga kanker diAmerika melakukan studi tentang
hubungan antara kebiasaan merokok dan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31
Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara 50 sampai 69 tahun.
Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan merokok
mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnya keadaan mereka diikuti
terus menerus selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis
tentang penyebab kematiannya, diperoleh data bahwa diantara 11.870 kematan yang
dilaporkan 2.249 disebabkan kanker.
Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang
merokok maupun yang tidak) ternyata angka kematian di kalangan penghisap rokok
tetap jauh lebih tinggi dari pada yang tidak pernah merokok, sedangkan jumlah
kematian pengisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kematian
yang tidak pernah merokok.
Selanjutnya, dari data terkumpul itu terlihat adanya
korelasi positif antara angka kematian dan jumlah rokok yang diisap setiap
hari………………………………………………………………………………………………………………………………………………………...
Dari bukti-bukti yang terkumpul dapat dikemukakan bahwa
asap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendek umur manusia.
Cara yang paling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu ialah dengan tidak
merokok sama sekali.
Tulisan di atas memaparkan hubungan sebab
akibat antara merokok dan kematian. Dari paparan itu dapat dilihat bagaimana
proses bernalar itu terjadi. Mula-mula mereka megumpulkan data dari sejumlah
orang laki-laki. Mereka itu dikelompokkan menurut kebiasaan merokoknya, mulai
dari yang tidak pernah merokok sampai pada perokok berat. Selanjutnya perokok itu
juga dibedakan antara yang penghisap rokok putih (sigaret) dan yang penghisap
cerutu dan pipa. Dalam waktu yang cukup panjang mereka diamati. Kematian dan
penyebabnya dicatat dan dianalisis. Dari bukti-bukti yang terkumpul ditarikah
kesimpulan-kesimpulan sehubungan dengan masalahnya. Secara ringkas paparan di
atas menggambarkan prose penalaran induktif. Proses itu dilakukan langkah demi
langkah sehinggah sampai pada kesimpulan.
b. Penalaran
Deduktif
Djajasudarma
(2005: 12) Deduksi dimulai dengan suatu premis
yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya,
apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam
pernyataan itu. Jadi sebenarnya, proses deduksi tidak menghasilkan suatu
pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan/kesimpulan yang konsisten dengan
pernyataan dasarnya. Sebagai contoh, kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya
adalah amplikasi pernyataan “Bujur
sangkar adalah segi empat yang sama sisi” (Sabarti, 2001: 41)
(1) Suatu
segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi tegak
lurusnya bukan bujur sangkar.
(2) Semua
bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segi empat
merupakan bujur sangkar.
(3) Jumlah
sudut dalam bujur sangkar ialah 360 derajat.
(4) Jika
sebuah bujur sangkar dibagi dua dengan garis diagonal akan terjadi dua segi
tiga sama kaki.
(5) Setiap
tiga yang terbentuk itu merupakan segi tiga siku-siku.
(6) Setiap
segi tiga itu mempunyai dua sudut lancip yang besarnya 45 derajat.
(7) Jumlah
sudut dalam segi tiga itu 180 derajat.
Setiap
pernyataan yang tecantum itu merupakan cara
lain untuk mengungkapkan pernyataan di atasnya secara konsisten. Pernyataan
(2) merupakan implikasi penyataan (1), pernyataan (3) merupakan implikasi
pernyataan (2) dan seterusnya. Disinilah letang perbedaanya dengan penalaran
induktif. Dalam penalaran induktif kesimpulan bukan merupakan implikasi data yang diamati; artinya, kesimpulan
mengenai fakta-fakta yang diamati tidak tersirat di dalam fakta itu sendiri.
Dalam
praktek, proses penulisan tidak dapat dipisahkan dari proses
pemikiran/penalaran. Tulisan adalah perwujudan haisl pemikiran/penalaran.
Tulisan yang kacau, mencerminkan pemikiran yang kacau. Karena itu, latihan
keterampilan menulis pada hakikatnya adalah pembiasaan berpikir/bernalar secara
tertib dalam bahasa yang tertib pula.
3. Penalaran
Deduktif dalam Karangan
Suatu
tulisan sebagai hasil proses bernalar mungkin merupakan hasil proses deduksi,
induksi atau gabungan keduanya. Dengan demikian suatu paparan dapat bersifat
deduktif, induktif atau gabungan antara kedua sifat tersebut. Suatu tulisan
yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan/umum berupa kaidah,
peraturan, teori, atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya, pernyataan itu
akan dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian yang
bersifat khusus. Sebaliknya, suatu tulisan yang bersifat induktif dimulai
dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau
generalisasi. Gabungan antara keduanya dimulai dengan pernyataan umum yang
diikuti dengan rincian-rincian dan akhirnya ditutup dengan pengulangan
pernyataan umum di atas.
Dalam
praktek proses deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan-satuan tulisan
yang merupakan paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk
kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikembangkan dalam paragraf
itu. Dengan demikian ada paragraf deduktif dengan kalimat utama pada awal
paragraf, paragraf induktif dengan kalimat utama pada akhir paragraf, dan ada
pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya (Arifin, 1999: 12)
Proses
deduktif dan induktif itu juga diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan.
Paragraf-paragraf deduktif dan induktif mungkin dipergunakan secara bergantian,
bergantung kepada gaya yang dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang
ingin diberikannya. Karya ilmiah merupakan sistensi antara proses deduksi dan
induktif. Kedua proses itu terlihat secara jelas (Hadi, 1998:32)
Sabarti (2001:41) menjelaskan bahwa
menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita
harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan
sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak
tidur), kita selalu berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu
kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang
tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkandali, terjadi dengan
sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan
berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar,
tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai
kepada suatu kesimpulan. Jenis
kegiatan berpikir yang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.
Djajasudarma (2005:12) menjelaskan
bahwa deduksi dimulai dengan suatu premis
yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya,
apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam
pernyataan itu. Jadi sebenarnya, proses deduksi tidak menghasilkan suatu
pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan/kesimpulan yang konsisten dengan
pernyataan dasarnya. Sebagai contoh, kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya
adalah implikasi pernyataan “Bujur
sangkar adalah segi empat yang sama sisi” (Sabarti, 2004:41).
8)
Suatu
segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi tegak
lurusnya bukan bujur sangkar.
9)
Semua
bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segi empat
merupakan bujur sangkar.
10) Jumlah sudut dalam bujur sangkar ialah 360
derajat.
11) Jika sebuah bujur sangkar dibagi dua
dengan garis diagonal akan terjadi dua segi tiga sama kaki.
12) Segi tiga yang terbentuk itu merupakan
segi tiga siku-siku.
13) Setiap segi tiga itu mempunyai dua
sudut lancip yang besarnya 45 derajat
14) Jumlah sudut dalam segi tiga itu 180
derajat
Setiap pernyataan yang tercantum itu
meupakan cara lain untuk mengungkapkan
pernyataan di atasnya secara konsisten. Pernyataan (2) merupakan implikasi
pernyataan (1), pernyataan (3) merupakan implikasi pernyataan (2), dan
seterusnya. Disinilah letak perbedaannya dengan penalaran induktif. Dalam penalaran
induktif kesimpulan bukan merupakan
implikasi data yang diamati, artinya kesimpulan mengenai fakta-fakta yang
diamati tidak tersirat di dalam fakta itu sendiri.
Dalam praktek, proses penulisan tidak
dapat dipisahkan dari proses pemikiran/penalaran. Tulisan adalah perwujudan
hasil pemikiran/penalaran. Tulisan yang kacau, mencerminkan pemikiran yang
kacau. Karena itu, latihan keterampilan menulis pada hakikatnya adalah
pembiasaan berpikir/nernalar secara tertib dalam bahasa yang tertib pula.
Apabila dilihat dari pola
pengembangannya paragraf dikembangkan dengan tiga pola, yaitu (1) pola
umum-khusus yang biasa disebut deduktif, (2) pola khusus umum yang biasa
disebut dengan induktif, dan (3) pola umum-kuhusus-umum yang biasa disebut
dengan campuran. Deduktif artinya kalimat utama ada pada posisi awal yang
diikuti kalimat-kalimat penjelas. Induktif artinya kalimat utama ada pada
posisi akhir dan didahului oleh kalimat-kalimat penjelas. Campuran artinya
kalimat utama ada posisi awal dan diperjelas pada posisi akhir, kalimat-kalimat
yang berada di antara kalimat utama itu disebut kalimat-kalimat penjelas.
Nafiah (1981:54) mengartikan penalaran
deduktif adalah paragraf yang dimulai dari kalimat inti, kemudian diikuti
uraian, penjelas, argumentasi, dan sebagainya. Dimulai oleh pernyataan yang
bersifat umum, kemudian kalimat-kalimat berikutnya berusaha membuktikan
pernyataan tersebut dengan meyebutkan hal-hal khusus, atau detail-detail
seperlunya.
Paragraf deduktif adalah paragraf yang
gagasan utamanya terletak di awal paragraf. Gagasan utama atau pokok persoalan
paragraf itu dinyatakan dalam kalimat paertama (Junanda dkk, 2005:435).
Sementara itu, Murtono dkk (1996:65)
menyatakan bahwa paragraf deduktif adalah paragraf yang dimulai dari hal-hal
yang umum (kalimat utama) menuju ke hal-hal khusus (kalimat-kalimat penjelas).
Dengan bahasa yang berbeda Rutbeyta (dalam ruitb3.ngeblogs.com/2009/10/23/paragraf…) mengartikan paragraf
deduktif yaitu paragraf yang menampilkan kalimat utama atau kalimat topic pada
awal paragraf, kemudian diikutim oleh kalimat-kalimat lain sebagai
pengembangnya.
Berdasarkan pendapat para ahli di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif adalah paragraf dimulai
dari hal-hal yang bersifat umum (kalimat utama) dan diikuti oleh hal-hal yang
bersifat khusus (kalimat-kalimat penjelas). Apabila pola paragraf deduktif
dalam bentuk bagan, maka bagan paragraf deduktif sebagai berikut:
|
UMUM
|
|
KHUSUS
|
|
KHUSUS
|
|
KHUSUS
|
4. Sillogisme
sebagai Penalaran Deduktif
Sabarti (2001:41) menjelaskan bahwa
untuk menguji benar salahnya struktur deduktif, digunakan perangkat deduktif
yang disebut sillogisme yang di dalamnya terdapat tiga bagian yaitu premis
mayor, premis minor dan simpulan. Berkaitan dengan hal tersebut, berikut akan
disajikan contoh penalaran sillogisme.
Premis mayor : Setiap makhluk hidup perlu makan dan minum
Premis minor : Kucing adalah makhluk hidup
Kesimpulan :
Kucing perlu makan dan minum
Kebenaran simpulan akan diterima
apabila kebenaran premis-premisnya pun diterima. Jika premis minornya berbunyi
robot adalah makhluk hidup, misalnya, simpulan robot memerlukan makan dan minum
tidak dapat dibenarkan karena premis minor tidak dapat diterima kebenarannya.
Kenyataannya adalah bahwa robot tidak dapat digolongkan sebagai makhluk hidup.
Sehubungan dengan pola penalaran
deduktif ini, dalam sebuah paragraf boleh jadi jadi tidak semua premisnya
tampil secara eksplisit. Seringkali premis mayor atau premis minornya
disembunyikan karena dianggap sudah diketahui oleh pembaca. Cara bernalar orang
dalam kalimat saya adalah warga Negara yang baik sebab selalu bayar pajak tepat
pada waktunya misalnya, dapat diurut kembali melalui pola sillogisme.
Perhatikan contoh berikut.
Premis mayor : Yang selalu membayar pajak tepat waktunya
adalah warga Negara yang baik
Premis minor :
Saya membayar pajak tepat pada waktunya
Simpulan : Saya warga Negara yang baik
Pada contoh di atas premis mayor tidak
dinyatakan. Yang dinyatakan hanyalah simpulan yang merupakan induk kalimat dan
premis minor yang menjadi anak kalimat.
B. Kerangka
Pikir
Penelitian kerangka pikir merupakan
pikiran bagi peneliti dalam memecahkan masalah penelitian, kerangka pikir dalam
penelitian dikemukakan sebagai berikut.
Menulis merupakan salah satu aspek
keterampilan berbahasa yang diajarkan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai
perguruan tinggi. Hal ini dapat dinyatakan dalam standar isi mata pelajaran
Bahasa Indonesia mencakup komponen berbahasa (meliputi aspek mendengarkan, berbicara,
membaca dan menulis) dan kemanpuan bersastra (Depdiknas, 2006).
Dalam standar isi mata pelajaran
bahasa Indonesia untuk sekolah lanjutan terdapat dua belas standar kompetensi
aspek menulis yang mesti dikuasai oleh siswa. Setiap semester terdapat dua
standar kompetensi aspek menulis, masing-masing satu standar kompetensi menulis
teks sastra dan satu standar komptensi menulis non sastra. Semua standar
kompetensi aspek menulis tersebut menekankan pada kemanpuan siswa menulis
paragraf. Hal ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran menulis,
diharapkan agar siswa memiliki kemanpuan menulis yang memadai.
Namun, harapan agar siswa memiliki kemanpuan menulis yang memadai masih rendah.
Dalam
penelitian ini, kemanpuan menulis paragraf siswa dilakukan dengan menentukan
atau menguji kemanpuan siswa menentukan kalimat utama dan kalimat penjelas
dalam paragraf dengan pola mengembangkan deduktif.
Kerangka
pikir tersebut dapat digambarkan dalam sebuah bagan, seperti pada gambar 1.
|
KETERAMPILAN MENULIS
|
|
PENALARAN DEDUKTIF
|
|
HASIL
|
|
SILLOGISME
|
|
KEMAMPUAN SISWA
|
C.
D.
Bagan Kerangka Pikir
C. Hipotesis
Hipotesis
dalam penelitian adalah keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada
penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah
Bulukumba memadai.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan yang
disajikan dalam bentuk deskriptif kuantitatif. Penggunaan metode lapangan
secara deskriptif kuantitatif ini diharapkan keterampilan menguraikan penalaran
sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI
SMA Muhammadiyah Bulukumba dapat terungkap secara akurat dalam bentuk
kuantitatif.
Metode dalam penelitian ini meliputi :
variabel dan desain penelitian, defenisi operasional variabel, populasi dan
sampel penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
A.
Variabel
dan Desain Penelitian
1.
Variabel
penelitian
Menurut
Arikunto (1992: 111), variabel adalah gejalah yang bervariasi yang menjadi
objek penelitian. Variable yang diamati atau diukur dalam penelitian ini adalah
variabel tunggal yaitu keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada
penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia.
2.
Desain
Penelitian
Secara
objektif sesuai dengan hasil yang diperoleh di lapangan. Berdasarkan hasil
tersebut, maka rancang penelitian ini dibuat berdasarkan prinsip merumuskan dan
menyusun alat penjaring data. Alat penjaring data dalam penelitian ini adalah
tes pemberian tugas.
3.
Defenisi
Operasional Variabel
Seperti
yang telah dikemukakan bahwa variable dalam penelitian ini keterampilan
menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa
Indonesia. Keterampilan dalam menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran
deduktif dalam bahasa Indonesia yang dimaksud adalah kesanggupan siswa
mengembangkan suatu gagasan yang dimulai oleh pernyataan bersifat umum,
kemudian kalimat-kalimat berikutnya berusaha membuktikan pernyataan tersebut
dengan menyebutkan hal-hal khusus, atau detail-detail seperlunya. Sillogisme
adalah penalaran premis mayor dan premis minor yang diakhiri dengan kesimpulan
atau konklusi.
4.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah
keseluruhan siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Kabupaten Bulukumba. Untuk
memperjelas populasi dalam penelitian, maka dapat dilihat pada table berikut:
TABEL 1
KEADAAN POPULASI SISWA KELAS
XI
SMA MUHAMMADIYAH
Kelas
Perempuan Laki-laki Jumlah
XI
14 13 27
Sumber: Papan Potensi Tahun 2011
Pada Tabel 1 tersebut, dapat terlihat
jumlah populasi yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini. Adapun
jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 27 siswa. Jumlah tersebut terdiri
dari 14 perempuan dan 13 laki-laki.
2.
Sampel
Berdasarkan
populasi yang telah diuraikan di atas, dapat diliat dengan jelas besarnya
populasi penelitian ini adalah 27 siswa. Oleh karena itu penulis akan menetapkan
sampel penelitian dari populasi yang diteliti dalam penelitian. Dengan
demikian, dalam penelitian ini khususnya mengenai proses pengambilan sampel,
penulis menetapkan jumlah populasi tersebut sebagai sampel penelitian secara
keseluruhan. Jadi penelitian ini menggunakan sampel total. Hal tersebut
dilakukan dengan pertimbangan tingkat homogenitas dan penelitian.
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
yang digunakan penelitian dalam mengumpulkan yaitu teknik pemberian tugas.
Pengumpulan data dengan tes dilakukan dengan cara tatap muka di kelas dengan
memberikan soal sebanyak 10 nomor berbentuk menguraikan gagasan dalam bentuk
sillogisme (dalam bentuk penalaran deduktif).
E.
Teknik
Analisis Data
Data
yang sudah dikumpulkan dan sudah diklasifikasikan akan dianalisis. Dalam
menganalisis data, penulis menggunakan teknik persentase nilai siswa yang
mendapat nilai 6,5 ke atas kemudian dibagi dengan jumlah siswa dan di kali
dengan 100 %. Teknik ini digunakan untuk mengetahui siswa sudah mampu atau
tidak didasarkan pada keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada
penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Penyajikan
Hasil Analisis Data
Pada
bagian ini akan diuraikan data penelitian yang telah dikumpulkan sesuai dengan
rumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya. Masalah yang menjadi sasaran
penelitian adalah keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada siswa
Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba. Berikut ini akan diuraikan data pelitian
yang diperoleh siswa. Adapun data yang ditemukan dan hasil data yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
Tabel
2
Hasil
Perolehan Skor dan Nilai Keterampilan Menguraikan Penalaran
Sillogisme
pada Penalaran Deduktif dalam Bahasa Indonesia
Siswa
Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba
|
No
|
Kode Sampel
|
Skor Perolehan
|
Nilai
|
|
1
|
001
|
8
|
8
|
|
2
|
002
|
8
|
8
|
|
3
|
003
|
8
|
8
|
|
4
|
004
|
8
|
8
|
|
No
|
Kode Sampel
|
Skor Perolehan
|
Nilai
|
|
5
|
005
|
8
|
8
|
|
6
|
006
|
8
|
8
|
|
7
|
007
|
8
|
8
|
|
8
|
008
|
7
|
7
|
|
9
|
009
|
8
|
8
|
|
10
|
010
|
8
|
8
|
|
11
|
011
|
7
|
7
|
|
12
|
012
|
7
|
7
|
|
13
|
013
|
7
|
7
|
|
14
|
014
|
9
|
9
|
|
15
|
015
|
6
|
6
|
|
16
|
016
|
8
|
8
|
|
17
|
017
|
9
|
9
|
|
18
|
018
|
9
|
9
|
|
19
|
019
|
9
|
9
|
|
20
|
020
|
9
|
9
|
|
21
|
021
|
6
|
6
|
|
22
|
022
|
8
|
8
|
|
23
|
023
|
8
|
8
|
|
24
|
024
|
6
|
6
|
|
25
|
025
|
6
|
6
|
|
26
|
026
|
6
|
6
|
|
27
|
027
|
6
|
6
|
Sumber:
Hasil Pengumpulan Data Siswa Sampel
Pada
tabel 2 tersebut di atas cukup memperlihatkan dengan jelas skor yang diperoleh
oleh siswa sampel. Skor perolehan siswa sampel tersebut merupakan salah satu
indikator yang menunjukkan variasi keterampilan menguraikan penalaran
sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI
SMA Muhammadiyah Bulukumba. Variasi nilai perolehan skor pada Tabel 2 di atas
dapat dijadikan gambaran variasi tingkat keterampilan menguraikan penalaran
sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI
SMA Muhammadiyah Bulukumba.
Selanjutnya,
untuk mengetahui dengan jelas keterampilan menguraikan penalaran sillogisme
pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA
Muhammadiyah Bulukumba, akan diuraikan peringkat hasil tes siswa sampel
berdasarkan skor perolehanyang dicapai. Selain itu, melalui peringkat skor
tersebut dapat diketahui skor tertinggi yang diperoleh siswa sampel. Untuk
memperjelas hal tersebut, dapat dilihat pad Tabel 3 berikut ini.
Tabel
3
Peringkat Hasil Tes Keterampilan Menguraikan
Penalaran Sillogisme Pada
Penalaran Deduktif Dalam Bahasa Indonesia
|
No
|
Kode Sampel
|
Skor Perolehan
|
Nilai
|
|
1
|
014
|
9
|
9
|
|
2
|
017
|
9
|
9
|
|
3
|
018
|
9
|
9
|
|
4
|
019
|
9
|
9
|
|
5
|
020
|
9
|
9
|
|
6
|
001
|
8
|
8
|
|
7
|
002
|
8
|
8
|
|
8
|
003
|
8
|
8
|
|
9
|
004
|
8
|
8
|
|
10
|
005
|
8
|
8
|
|
11
|
006
|
8
|
8
|
|
12
|
007
|
8
|
8
|
|
13
|
009
|
8
|
8
|
|
14
|
010
|
8
|
8
|
|
15
|
016
|
8
|
8
|
|
16
|
022
|
8
|
8
|
|
No
|
Kode Sampel
|
Skor Perolehan
|
Nilai
|
|
17
|
023
|
8
|
8
|
|
18
|
008
|
7
|
7
|
|
19
|
011
|
7
|
7
|
|
20
|
012
|
7
|
7
|
|
21
|
013
|
7
|
7
|
|
22
|
015
|
6
|
6
|
|
23
|
021
|
6
|
6
|
|
24
|
024
|
6
|
6
|
|
25
|
025
|
6
|
6
|
|
26
|
026
|
6
|
6
|
|
27
|
027
|
6
|
6
|
|
JUMLAH
|
205
|
||
|
RATA-RATA NILAI
|
7,59
|
||
Sumber: Hasil Peringkat Tes Siswa Sampel
Uraian data pada Tabel 3 di atas
menggambarkan dengan jelas peringkat hasil tes keterampilan menguraikan
penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa
Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba. Skor tertinggi yang diperoleh siswa sampel
adalah 9 dengan perolehan nilai 9; sedangkan skor terendah yang diperoleh siswa
sampel adalah 6 dengan perolehan nilai 6. Uraian tersebut secara tidak langsung
menunjukkan bagaimana keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada
penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah
Bulukumba. Skor terendah yang diperoleh siswa yaitu 6 dengan nilai 6
memperlihatkan bahwa di antara siswa samper tersebut, masih terdapat siswa yang
kemampuannya membutuhkan perhatian. Meskipun demikian, nilai skor perolehan
siswa sampel cukup memadai karena mayoritas yang memperoleh nilai di atas 7,59.
B.
Pembahasan
Sesuai
dengan tabel skor dan nilai hasil tes keterampilan menguraikan penalaran
sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI
SMA Muhammadiyah Bulukumba, dapat diketahui distribusi frekuensi kemampuan
mereka. Uaraian Tabel 4 berikut ini, dapat diketahui dengan jelas distribusi
frekuensi skor dan nilai siswa sampel dalam meningkatkan keterampilan menguraikan
penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada Kelas
XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.
Tabel
4 tersebut, menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah 9 dengan nilai 9 sebanyak 5
orang siswa dengan persentase 18,51%, sedangkan skor dengan frekuensi terbanyak
adalah 8 dengan nilai 8 sebanyak 12 orang siswa dengan persentase 23,52%.
Mengenai distribusi frekuensi kemampuan siswa, dapat dilihat pada uraian Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Skor
dan Nilai Sampel
|
SKOR
|
Nilai
|
Frekuensi
|
Nilai
|
|
10
|
10
|
-
|
|
|
9
|
9
|
5
|
18,51
|
|
8
|
8
|
12
|
23,52
|
|
7
|
7
|
4
|
44,44
|
|
6
|
6
|
6
|
22,22
|
|
JUMLAH
|
27
|
100
|
|
Hasil analisis data
tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas sebanyak 21
orang atau 77,78% sedangkan siswa yang memperoleh nilai di bawah 6,5 adalah 6
atau 22,22%. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa sampel adalah 7,86. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5
Hasil yang Dicapai Siswa
Sampel
|
Standar Kemampuan
|
Jumlah Siswa
|
Persentase
|
|
Di Atas 6,5
Di Bawah 6,5
|
21
6
|
77,78%
22,22%
|
|
Jumlah
|
27
|
100
|
Selanjutnya,
berdasarkan criteria pengujian hipotesis, maka hipotesis dinyatakan diterima
karena lebuh dari 85% yang diperolah nilai di atas 6,5 dari skala penilaian
1–10. Pernyataan simpulan pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 6
berikut ini.
Tabel 6
Pernyataan Kesimpulan
Pengujian Hipotesis
|
Keterampilan menuraikan penalaran sillogisme pada
penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA
Muhammadiyah Bulukumba memadai.
|
Hipotesis Ditolak
|
Dengan
demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh 6,5 ke atas
hanya mencapai 77,78%. Oleh karena itu, hipotesis dinyatakan ditolak.
BAB
V
SIMPULAN
DAN SARAN
A.
Simpulan
Berdasarkan
hasil analisis data dan pembahasan tentang keterampilan menguraikan penalaran
sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI
SMA Muhammadiyah Bulukumba, dapat diambil suatu simpulan bahwa siswa yang
memperoleh nilai 6,5 ke atas sebanyak 21 orang atau 77,78% sedangkan siswa yang
memperoleh nilai di bawah 6,5 sebanyak 6 orang atau 22,22%. Hal ini membuktikan
bahwa keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif
dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba belum
memadai karena kurang dari 85% siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas.
B.
Saran-Saran
Berdasarkan
hasil penelitian keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran
deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba,
penulis ingin memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Pengajaran
bahasa Indonesia di SMA hendakanya tetap diberikan perhatian yang serius pada
siswa khususnya kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi.
2. Perlunya
pemahaman tentang metode pengajaran dalam meningkatkan keterampilan menulis di
SMA
3. Dalam
melanjutkan penelitian ini, hendaknya dapat memilih keterampilan berbahasa yang
lain sebagai objek penelitian yang betul-betul menarik perhatian calon peneliti
sehingga kendala-kendala yang akan muncul dapat di atasi dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah,
Sabarti dkk. 2001. Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Ambo
Enre, Fachruddin. 1998. Keterampilan
Menulis. IKIP Ujung Pandang: BP IKIP Ujung Pandang.
Amiruddin.
2000. Isi dan Strategi Pengajaran Bahasa
dan Sastra: Pendekatan Terpadu dan Pendekatan Proses. Malang: IKIP Malang.
Arifin.
1999. Keterampilan Menulis. Jakarta:
Pustaka Setia.
Arikunto,
Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian;
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas.
2006. Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa
dan sastra Indonesia SMP. Jakarta: Depdiknas.
Djajasudarma,
Fatimah. 2005. Menulis; Suatu Proses
Penalaran. Jakatra: Gramedia.
Hadi,
Nafiah. Menulis Sebagai Suatu
Keterampilan. Jakarta: Pustaka setia.
Juanda
dkk. 2006. Intisari Bahasa dan Sastra
Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Keraf,
Gorys. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende
Flores: Nusa Indah.
________2007.
Argumentasi dan Narasi. Cetak Kelima
Belas. Jakarta: Gramedia.
Kridalaksana,
harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Cetakan
Keempat. Jakarta: Gramedia.
Kurniawan.
2006. Keterampilan Mengarang, (online), (one,
Indoskripsi.com/judul- skripsi..., diakses 12 Nei 2010).
Martodiwirjo.
2009. Defenisi Paragraf, (online), (Community.gunadarma.ac.id/blog/view/id.../title-definisi-
paragraf..., Diakses 5 Mei 2010.)
Nafiah,
A. H. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang? Surabaya:
Usaha Nasional.
Oka,
Gusti Ngurah. 1989. Pembinaan Pengajaran
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Parera,
Jos Daniel. 1987. Menulis Tertib dan Sistematis. Jakarta:
Erlangga.
Purwo.
Bambang Kaswanti. 1990. Keterampilan
Mengembangkan Karangan, (online), (one.indoskripsi.com/judul-skripsi...,
diakses 12 Mei 2010).
Said
D.M., M. Ide. 2008. Aspek Kebahasaan dan
Tata Cara Penulisan. Makalah disajikan dalam rangka Workshop Penulisan
Bahan Ajar Universitas Muhammadiyah Makassar, Tanggal 28 Desember 2008.
Soedjito
dan Hasan, Mansur. 1990. Keterampilan
Menulis Paragraf. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Sunardji
dkk. 1989. Petunjuk Teknis Pengajaran
Bahasa Indonesia di SMKTP. Jakarta: Proyek Peningkatan SMTP Kejuruan dan
Teknologi.
Suyono.
2004. Cerdas Berpikir: Bahasa dan sastra
Indonesia untuk Kelas I SMA. Jakarta: Ganeca Exact.
Tarigan,
Henry Guntur. 2000. Menulis sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
The Liang
Gie. 2002. Terampil mengarang. Yokyakarta:
ANDI Yogyakarta.
T-Shirt - Titanium Septum Ring | T-Shirt
BalasHapusT-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. implant grade titanium earrings T-Shirt. T-Shirt. T-Shirt. 2019 ford fusion hybrid titanium T-Shirt. titanium build for kodi T-Shirt. titanium properties T-Shirt. T-Shirt. titanium build for kodi