Kamis, 14 Mei 2015

Kampung Sejarah Gantarang Lalang Bata Selayar

SELAYAR

Dusun kecil dan terisolasi Gantarang Lalang Bata, terletak di Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk mencapai kampung kecil ini, memerlukan usaha tersendiri, karena harus melewati jalan sempit ditepian jurang, perbukitan, dipantai timur kabupaten kepulauan Selayar. Kabupaten kepulauan Selayar dapat dicapai dengan perjalanan laut dengan kapal ferry selama 2 jam dari pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba.
Dari kota Benteng kita menuju ke arah timur melewati jalanan kabupaten yang sempit dan menanjak. Dari jalan utama, memasuki jalan desa yang sebelah kiri dan kanan jalan terdapat jurang dan hutan kelapa. Di ujung jalan desa yang terjal, kita harus mendaki tangga yang juga terjal untuk sampai ke kampung ini. Memasuki perkampungan kita disambut dengan pemandangan langsung ke pekuburan tua dimana mana, dan juga rumah panggung penduduk yang berjejer. Ditengah tengah terletak mesjid tua yang juga dikelilingi oleh pekuburan tua. Perkampungan ini sangat terpencil. Penduduk yang bermukim disini juga memiliki sepeda motor yang disimpan di tempat parkir khusus sebelum naik tangga.
Perkampungan Gantarang Lalang Bata adalah sebuah perkampungan kecil dan tua yang sangat terpencil.
Jumlah rumah yang ada dikampung itu sekitar 20an, dan disekitarnya dikelilingi kuburan tua yang kalau dilihat dari batu batu nisannya mungkin sudah mencapai 300 – 400an tahun. Kampung ini dikelilingi oleh jurang terjal dan satu satunya akses kesini adalah tangga dari jalan desa. Pusat segala kegiatan dari kampung ini adalah mesjid tua yang menurut sejarah dibangun oleh Datu Ribandang dalam perjalanannya pulang dari Kepulauan Buton. Mesjid tua di Gantarang ini tiang utamanya konon terbuat dari kayu pohon cabe (lombok) raksasa. Tiangnya terdirir dari 17 buah melambangkan jumlah rakaat dalam shalat.
Disamping mesjid tua, ada satu meriam tua yang tergeletak begitu saja, kemungkinan peninggalan Perang Dunia ke-2. Kalau anda berkesempatan ke Kepulauan Selayar, silahkan kunjungi kampung ini, dimana anda akan menemukan suasana lain… suasana relijius, klasik, suasana kampung yang sepi dan sedikit mistik…

Gantarang Lalangbata, Kampung Bersejarah

Yang Terabaikan

Pagi itu, saya bersama seorang rekan bertolak menuju Dusun Gantarang Lalang Bata, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontamanai, Kabupaten Kepulauan Selayar, dengan ditemani Ridwan (45), warga Benteng yang asli Gantarang. Meskipun asli Selayar, tempat bersejarah itu belum pernah saya injak. Pengetahuan saya tentangnya sebatas perbincangan dari mulut ke mulut. Deskripsi tertulis atau catatan sejarah hampir-hampir tidak pernah saya temukan.
Kalau pun ada, bagi saya sangat tidak memadai. Karena itu, selagi masih muda, saya berketetapan hati mengunjunginya. Saya tidak ingin lagi dicap tidak tahu apa-apa saat ditanya teman-teman dari luar. Setelah menempu perjalanan mendaki selama kurang lebih tiga puluh menit dari Benteng dengan sepeda motor, kami bertiga tiba di Bontomarannu. Dari sana, Gantarang Lalangbata masih berjarak kira-kira satu kilometer. Saat mulai menyusuri jalan setapak, rekan yang saya bonceng bertanya, “Ke mana ini ?” Nada bicaranya seakan-akan tidak percaya.
“Ke Gantarang,” Jawabku. Saya yakin menuju Gantarang karena sepeda motor yang dikendarai Ridwan selalu berada di depan kami. Saya hanya mengikutinya. Jika sebelumnya eksostisme pulau Selayar yang terhampar di kiri-kanan jalanan membuat saya takjub, setelah menyusuri jalan setapak, pemandangan yang saya lihat begitu menyeramkan, jalanan sangat parah dan jurang di kiri- kanan. Ditambah lagi dengan pohon-pohon beringin yang kelihatannya sudah berumur tua membuat kengerian saya pagi itu semakin menjadi-jadi.
Kalau di sebelah, mungkin kita sudah dirampok, “ ujarku sambil menceritakan kejadian-kejadian yang sering terjadi di Maros dan di Gowa.
Di sini tidak pernah ada kasus-kasus begitu,?” timpal rekan saya
Di sini aman, yang banyak cuma pengeboman ikan dan pembalakan hutan”
Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di pintu masuk Gantarang Lalangbata. Rumah-rumah penduduk belum tampak karena kampung yang dikelilingi jurang itu berada di atas ketinggian. Setelah mendaki tangga dari batu-batu alam setinggi kurang lebih dua puluh meter, kami pun tiba di perkampungan.
Yang pertama kali menyita perhatian saya adalah kuburan tua di dekat pintu masuk. Nasibnya sama dengan jalan setapak yang baru saja kami lalui. Andai saya ditemani orang Belanda atau Jepang saat itu, pasti ia berkata, “Saya tahu mengapa nenekku menjajah nenekmu.” Ya nenek kita memang bodoh, dan kebodohannya menurun ke anak cucunya. Masa peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya di abaikan begitu saja.
Sesampai di perkampungan, kami langsung singgah di rumah Iskandar (39). Setelah berkenalan, kami pun mengeluhkan medan berat yang baru saja kami lalui. “Beginilah kondisinya. Katanya kampung bersejarah tapi saya tidak tahu kenapa tidak pernah diperhatikan. Dari dulu begini-begini,” ujar muliati, isteri Iskandar. Saat kami mulai bertanya sejarah masuknya Islam di Gantarang, Iskandar malah memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan.
Sering ada orang untuk meneliti, tapi tidak pernah ada hasilnya. Sehari semalam kami bercerita Cuma menghabiskan air liur saja,” ujarnya. Ucapan Iskandar bisa bermaksud ganda : hasil penelitian tidak pernah jelas dan atau tidak berimplikasi apa pun bagi perbaikan kampungnya. Karena kami datang bukan sebagai peneliti sejarah, tidak ada alasan untuk tersinggung.
Selepas makan siang, kami bersiap-siap menunaikan salat Jum’at Masjid Tua Gantarang. Pada waktu yang sama melintas seorang peneliti dari Yunani bersama pemandunya. Bule’ itu berhenti sejenak, dan langsung menyapa, “Selamat siang.”
“Selamat siang, Mister,” jawabku. Terus terang, saya kagum dengan kefasihannya dalam berbahasa Indonesia.
“Boleh saya melihat Musallah ?”
“Boleh.” Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah si bule’ sekedar berbasa basi ataukah tampangku memang mirip kepala kampung, ya ?
Si bule’ bergegas menuju masjid, dan kami pun segera mengikutinya. Sampai di masjid, si bule’ dikerumuni jamaah. Ia mempertanyakan tahun berdirinya masjid. Karena tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa dipercaya validitasnya, Dg Demma (55) tokoh masyarakat Gantarang menjawab berdasarkan informasi yang pernah didengarnya dari para peneliti Barat lainnya. “Peneliti Jerman dan Belanda yang pernah datang kemari mengatakan, mesjid ini dibangun pada abad ke-16,” ujarnya kepada si bule’. Mesjit Tua Gantanrang sebenarnyasudah bukan lagi yang asli. Lokasinya sudah dipindahkan, bangunannya pun sudah direnovasi berkat bantuan Tanri Abeng.
Si bule’ tidak berlama-lama di dalam mesjid. Setelah mengambil gambar, ia lalu bergegas pergi. Boleh jadi ia hanya bermaksud melihat langsung Gantarang Lalangbata. Untuk urusan data, saya yakin arsip-arsip Belanda yang tersimpan di Leiden, misalnya, jauh lebih memadai. Tidak lama berselang perginya si bule’ salat Jumat pun dimulai.
Setelah dua orang muadzin melantunkan azan di depan mimbar secara bersamaan, salah seorang di antaranya lalu menjemput khatib yang duduk di sisi kiri mesjid. Di dekat khatib terdapat sebuat tongkat yang disandarkanke dinding mesjid. Dulu tongkat itu berupa pedang. Muadzin penjemput lalu berjalan ke arah mimbar secara perlahan-lahan, diikuti khatib di belakangnya. Setelah tiba di mimbar, khatib menerima tongkat lalu memulai khutbahnya dengan membaca naska tua berbahasa Arab. Judding (22), sang khatib, sangat fasih membaca naskah tua khutbah. Sebelumnya, muadzin penjemput mengumumkan kepada jamaah bahwa khutbah Jumat sebentar lagi dimulai. Semua penyampaian dalam bahasa Arab, sayangnya, tidak semua jamaah memahami artinya, lebih-lebih saya.
Salat Jumat usai, kami bergegas menuju tempat-tempat “Keramat” yang biasa saya dengar dari orang-orang. Tanpa komando, beberapa anak menemani kami. Merekalah yang menunjukkan tempat-tempat yang saya maksud. Tempat pertama yang kami datangi adalah tumpukan batu yang konon dahulu kala dijadikan tempat latihan thawaf bagi calon jamaah haji. Didekat tumpukan batu itu terdapat sebuah lubang dengan kedalaman kira-kira setengah meter yang di sebut pakkojokang. Menurut cerita orang-orang disana, lubang itu tidak pernah tergenang air meskipun hujan deras, padahal dasarnya adalah batu.
Karena penasaran, teman saya bertanya, “Boleh turun ?”
“Tidak boleh” ujar seorang anakyang menyertai kami, spontan.
“Ah, masa ?” ujar teman saya. Teman yang keras kepala itu mengambil ancang-ancang untuk melompat ke dalam lubang. Karena saya tidak ingin kembali ke Benteng seorang diri, saya pun ikut-ikutan berteriak, “Eh, jangan !”.
Setelah puas mengamati pakkojokang, kami beralih ke lokasi “bekas tapak kaki Nabi Muhammad” yang terletak diatas batu cadas. Ukuran dua bekas tapak kaki yang saya lihat sangat besar. Kami sangat beruntung hari itu karena konon hanya orang-orang luar biasa yang dapat melihatnya. Saat itu rombongan kami bertambah setelah dua orang dewasa ikut bergabung. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah makam Datok Ri Bandang. Makam ini sendiri, tidak bergabung dengan makam-makam lainnya. Posisinya membujur dari arah timur barat. Konon si mayit saat dikuburkan menghadap ke atas, bukan ke samping. Kondisi kuburannya sangat sederhana, hanya terdiri dari susunan batu. Nisannya juga begitu. Agak berbeda dengan kuburan tua lainnya yang memiliki nisan dengan model tertentu.
Sehabis itu, kami diajak ke salah satu pintu masuk yang berada di sebelah timur. Dulu pintu ini adalah jalan utama ke Gantarang Lalangbata karena jalur transportasi saat itu lewat laut. Sedangkan pintu sebelah barat hanya jalan ke kebun atau tempat mundur jika musuh menguasai perkampungan. Disitu terlihat betapa indahnya panorama pantai timur. Jarak bibir pantai dengan perkampungan kira-kira satu kilometer. Mendaki tebing sejauh itu tentu bukanlah pekerjaan mudah. Herkules saja pasti ngos-ngosan untuk mencapai perkampungan. Tapi anehnya, orang-orang disana sudah biasa mendaki lebih jauh dari itu, dengan beban di pundak pula.
Sekitar tiga kilometer dari perkampungan, terdapat sebuah tanjung yang disebut turungan. Saat ini, pelabuhan alam itu masih sering disinggahi perahu-perahu nelayan yang bermaksud mengambil air minum. Di sekitarnya terdapat kebun-kebun milik orang gantarang. Di sana terdapat kuburan kuno. Tidak menutup kemungkinan di sanalah orang-orang Gantarang pertama kali bermukim sebelum pindah keatas bukit.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri bertamu ke rumah Dg Demma. Saat berbincang-bincang, ia mengatakan, “Saya malu karena orang luar lebih tahu tempat ini. Soal kondisinya yang terabaikan, tidak apa-apalah. Kan bukan juga kami yang malu tapi pemerintah”

 Gantarang Lalang Bata (di Balik Misteri “Bekas Telapak Kaki” Nabi Muhammad)

Jika dilihat sepintas, Gantarang Lalang Bata di Selayar yang dianggap sebagai tanah suci oleh orang-orang tertentu yang meyakininya, tampak tidak mengandung sesuatu yang istimewa untuk disimak. Kalaupun harus dianggap unik, hanya sekitar bentuk, model, dan letak perkampungan yang berbeda dengan pemukiman di tempat lain. Perkampungan ini berada di atas ketinggian dan dikelilingi (diapit) oleh pagar batu (kondisi seperti inilah yang dijadikan alasan untuk penamaannya).
Istilah Gantarang sepadan artinya dengan wanua (kampung, Bugis). Karena itu, Gantarang Lalang Bata dapat diartikan sebagai kampung yang berada di dalam pagar batu. Lingkungan atau pemukiman yang berada dalam pagar batu tersebut, biasa disebut lalang emba atau ilalang embaya dan penyebutan untuk di luar tempat itu adalah pantarang emba. Jadi di dalam emba inilah, tempat yang dianggap suci dan skaral sehingga sering digunakan oleh orang-orang tertentu dari berbagai daerah untuk melepas hajatan, membayar nazar, dan sejumlah kepentingan lainnya. Bahkan menurut kepercayaan banyak orang, terdapat berkas telapak kaki Nabi Muhammad SAW di tempat ini.
Mendengar istilah bekas telapak kaki Nabi Muhammad, maka ragam penafsiran serta multi persepsi akan muncul mewarnai pikiran. Mereka yang berpikir simple dengan mengandalkan potensi rasionalitasnya, akan menganggapnya sama sekali tidak memiliki nilai kebenaran. Bahkan akan mengganggapnya mustahil, apalagi hubungan historis secara langsung antara Gantarang dan Mekkah tidak pernah terjalin. Dalam istilah bahasa lokal di Sulawesi Selatan, disebut ”carita mate” (cerita tidak masuk akal). Sebaliknya, di sisi lain keyakinan yang dianggap tidak masuk akal ini, justru tumbuh subur bersama rasa percaya bahwa hal itu memang benar adanya.
Jika ditelusuri secara historis mengenai cerita tentang bekas telapak kaki nabi ini, sesungguhnya telah lama dipercayai oleh banyak orang. Bahkan cerita ini telah dilengkapi oleh sebuah upaya ”pembenaran justifikatif” bahwa latar keberadaan bekas telapak kaki ini, terkait dengan cerita bahwa konon rencana awal Mekkah itu adalah di tempat ini (Gantarang). Akan tetapi, karena sesuatu dan lain hal maka akhirnya diputuskan Mekkah itu di Arab Saudi.
Kepercayaan terhadap cerita inilah yang menyebabkan sehingga muncul keyakinan bahwa tempat ini adalah Mekkah kedua yang kurang lebih sama statusnya dengan Mekkah yang sebenarnya. Bahkan banyak orang meyakini bahwa bekas telapak kaki Nabi Muhammad, yang ada di Gantarang adalah kaki sebelah kiri. Sementara itu, kaki sebelahnya lagi (kanan) ada di Mekkah (Arab Saudi).
Keyakinan kuat untuk ”menyamakan” posisi Gantarang dengan Mekkah ini, boleh jadi merupakan salah satu faktor penyebab lahirnya anggapan bahwa ada bekas telapak kaki nabi di tempat ini. Maksudnya, bahwa untuk lebih menguatkan argumen tentang status Gantarang ini, maka mesti informasinya dipaketkan dengan perihal nabi. Konsekuensinya, terjadilah proses pewarisan secara transmisif dari generasi ke generasi sehingga keyakinan ini pun demikian kukuhnya menancap dalam benak para pengagumnya. Lalu bagaimana sepantasnya hal yang ”tidak masuk akal” menurut orang-orang tertentu ini, diposisikan secara ilmiah?.
Tugas kita adalah mencoba menggiring anggapan ini dari luar akal pikiran ke dalam akal (atau minimal menempatkannya di sekitar akal), lalu merasionalkannya. Upaya ini, tentu harus dimulai dari sebuah bangunan asumsi yang ditopang oleh premis menganggap bahwa orisinalitas suatu ideologi atau ajaran kerap sulit ditemukan pada komunitas pendukung budaya (tradisi) tertentu. Karena itu, dalam kaitannya dengan ajaran Islam, maka akan ditemukan dua dimensi dalam realitasnya yakni ada kultur Islam dan ada pula Islam kultur.
Dalam pengertian lain bahwa jika agama Islam masuk dan mulai diyakini oleh suatu masyarakat, maka akan terjadi proses penyesuaian (adaptasi) antara kepercayaan lama dengan ajaran yang baru. Proses persesuaian antara kepercayaan (budaya) lama dengan sistem kepercayaan baru seperti ini dalam pandangan Azyumardi Azra (1992) dinamakan adhesi. Karena itu, kolaborasi-integratif antara kedua kedua unsur ini mesti dimaknai sebagai fenomena kultural yang wajar.
Kiranya pada dimensi kedualah, Islam di Gantarang hendak diposisikan. Karena itu, jika pondasi ilmiah seperti ini digunakan untuk memahami perihal atau kepercayaan semisal adanya bekas telapak kaki Nabi Muhammad, maka tentu tidak sulit menentukan kesimpulan. Dalam pengertian lain bahwa memahami fenomena seperti ini, tidak boleh dipahami secara tekstual melainkan dengan hampiran kontekstual.
Menelusuri akar penyebab penamaan istilah atau anggapan akan adanya bekas telapak kaki Nabi Muhammad di Gantarang, sepantasnya harus dikembalikan pada konteks zamannya. Dugaan yang mudah diterima oleh akal sehat, yakni anggapan ini kemungkinan awalnya hanya sebuah istilah yang digunakan sebagai alat legitimasi. Artinya bahwa ia adalah penguat eksistensi atas Gantarang dahulu yang pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Islam di Selayar.
Karena itu, demikian kuat dan kentalnya kepercayaan akan fungsi penting Gantarang sebagai tempat awal masuknya Islam di Bumi Tanadoang sehingga memunculkan beragam asumsi atasnya. Demikian pula lahirnya kecenderungan menganggap tempat ini suci dan sakral sehingga dipandang sebagai tempat berdo’a yang paling afdal, bukan tidak mungkin juga berawal dari kedudukan penting Gantarang pada masa awal masuknya ajaran Islam.
Sebuah cerita menarik dalam kaitannya dengan kedudukan Gantarang sebagai pusat pengembangan ajaran Islam periode awal, yakni ada seseorang yang sepulang belajar agama Islam keliru dalam penerapannya. Betapa tidak, konon kabarnya lelaki yang belum terlalu tua usianya ini kembali dari Gantarang belajar agama Islam yakni surat Al-Fatihah dan bacaan saat azan. Rupanya saat magrib pertama setelah ia tiba di kampungnya, ia lalu mempraktekkan dan kemudian mengajarkan kepada warga lain cara melakukan adzan. Akan tetapi, karena sang lelaki tadi tidak memiliki catatan dan hanya menghafal pelajaran yang diterimanya di Gantarang, dalam penerapannya justru terbalik. Akibatnya, saat ia mempraktekkan adzan justru surat Al-fatihah yang bacanya.
Tampaklah kejadian aneh dan cenderung lucu yang tadinya tidak dipersoalkan, kerena memang orang lain belum mengetahuinya. Jadi lelaki tadi melakukan azan dengan mengumandangkan kalimat berikut yakni: ”bismillahirrahmanirrahim… 2x”, ”alhamdulillahi rabbilalamin… 2x”, dan seterusnya. Kekeliruan yang agak lucu ini, baru dikoreksi saat lelaki tadi pulang untuk kedua kalinya belajar di Gantarang.
Contoh kisah singkat serta beberapa cerita rakyat lainnya, merupakan suatu pertanda bahwa Gantarang memang pernah menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ajaran Islam. Posisi penting tempat ini sebagai Islamic Center periode awal, memang sangat berpotensi untuk dimaknakan sedemikian rupa termasuk mengkultus-sakralkannya. Apalagi, pemaknaan atas nilai-nilai sakral yang disematkan pada peran Gantarang, juga dipersubur oleh isu-isu dan keterangan masyarakat yang cenderung bersifat mitos.
Pemitos-sakralan terhadap sesuatu termasuk bekas telapak kaki Nabi Muhammad di Gantarang, pada dasarnya tidak dapat disalahkan. Sebaliknya, harus dimaklumi mengingat bahwa terjadinya mitos terhadap sesuatu itu, disebabkan oleh refleksi dari keingintahuan manusia terhadap apa yang dilihat atau dirasakannya sedangkan kemampuan untuk itu relatif terbatas. Tidak seimbangnya antara dorongan ingin tahu dengan kemampuan berpikir manusia terutama pada zaman kuno, itulah yang menyebabkan lahirnya mitos.
Anggapan dan bahkan kepercayaan mengenai adanya bekas telapak kaki Nabi Muhammad di Gantarang, boleh jadi disebabkan oleh anggapan berlebihan atas sesuatu yang diyakininya. Bahkan bukan tidak mungkin makna bekas telapak kaki Nabi itu, sama statusnya dengan ungkapan yang berbunyi “makkasara’mi Nabbi Muhammad” (Nabi Muhammad telah menampakkan wujudnya).
Ungkapan ini lahir sebagai refleksi dari suatu kisah tentang pertemuan Raja Tallo dengan seseorang yang berusia tua di tengah perjalanan dan orang tua itu menanyakan perihal tujuannya. Orang tua tadi menuliskan sesuatu di atas ibu jari Raja Tallo yang ternyata itu adalah Surat Al-fatihah. Berdasarkan penjelasan Datuk Ri Bandang, bahwa orang tua tadi adalah Nabi Muhammad. Pertemuan Raja Tallo dengan orang tua tersebutlah, yang dalam bahasa Makassar disebut “Makkasara’mi Nabbi Muhammad ri Buttaya ri Tallo”. Kalimat ini, bermakna “Nabi Muhammad menjelma atau menampakkan diri di Kerajaan Tallo”.
Sebagaimana pengislaman di Kerajaan Tallo dan Gowa, di Gantarang Nabi Muhammad juga tidak langsung membawa ajaran Islam. Karena itu, makna Makkasara’mi Nabbiya dan bekas telapak kaki Nabi Muhammad kedudukannya sama dari segi makna yang konotatif. Karena itu, dari segi kekuatan informasi maka kedua ungkapan makkasara dan jejak telapak kaki Nabi tersebut, sangat potensial untuk kepentingan pengislaman.
Dengan demikian, anggapan bahwa Nabi Muhammad pernah menampakkan wujudnya di kerajaan Tallo maupun di Gantarang Selayar, seharusnya dimaknai sebagai ajarannya yang telah diterima dan diyakini dalam hati oleh orang-orang di kedua tempat ini. Dalam pengertian lain bahwa secara kontekstual, anggapan yang sepintas kurang dan bahkan tidak rasional ini, sepantasnya dimaknai secara konotatif. Artinya, bahwa mereka yang mengganggap ada bekas telapak kaki Nabi di Gantarang tidak perlu dipersalahkan. Bahkan tidak semestinya mempersoalkannya hingga melibatkan dalil agama apalagi membenturkannya dengan argumen yang menggunakan hampiran pemikiran kultural. ***
Menafsir Jejak Datuk Ri Bandang di Gantarang Lalang Bata

Enam tahun lalu saat tinggal di Kota Benteng, Selayar, saya tidak pernah berpikir atau diberitahu sekalipun bahwa Gantarang Lalang Bata, adalah kampung pertama yang dijejaki oleh Datuk Ri Bandang. Penganjur Islam yang disebut sebagai orang pertama yang membawa ajaran Muhammad SAW ke jazirah selatan Sulawesi.
Saat itu yang saya tahu bahwa Gantarang Lalang Bata, satu daerah di ketinggian sebelah timur Selayar yang sarat oleh cerita mitos. Ke sananya pun harus berjalan kaki dan mendaki tebing berbatu kapur. Orang-orang yang ke sana, dianjurkan untuk “membenturkan kepalanya” dengan perlahan sebagai pertanda keselamatan. Saat itu, Gantarang Lalang Bata adalah satu kampung kecil yang masih terisolir.Untuk ke sana kita mesti mendaki tangga batu yang di kelilingi tebing rimbun.
Minggu lalu, adalah kedatangan ketiga saya selama setahun terakhir di Selayar setelah meninggalkan daerah ini tahun 2003. Secara kebetulan, saat itu kami mengadakan praktek lapang di Kampung Cini Mabela, Desa Parak. Utara Kota Benteng. Saat peserta sedang berpraktek melakukan observasi desa, saya mengajak pak Haji Ashar, Ruslan, Linda, Mastan untuk menyusuri perbukitan belahan timur.
Tidak terlintas bahwa daerah yang kami tuju adalah juga bagian dari wilayah Gantarang Lalang Bata (GLB), Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomarannu. Di pikiran saya, saat mobil sampai ke ujung jalan utama kami akan berada di puncak Selayar, puncak tertinggi. Tapi tidak, setelah berhenti sejenak di satu kampung, kami mendengar bahwa jika kami berbelok ke kanan maka di situ adalah titik menuju Gantarang Lalang Bata yang terkenal itu.
Setelah berdiskusi dengan kawan akhirnya kami putuskan ke GLB. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 waktu Selayar saat kami mulai melintasi jalan berliku dan curam. Tepatnya, pagi menjelang siang di hari jumat di bulan Desember 2009. Kita masih punya waktu satu jam untuk menengok kampung GLB.
Kami melewati jalan kecil walau sudah di aspal rapi. Di kiri jalan terdapat sungai kecil yang airnya tenang. Saat melewati beberapa meter dari belokan kanan jalan kami mulai mendapat jalan yang masih baru. Jalan beton. Di kiri kanan terlihat jurang. Masih terdapat molen campuran pasir semen. Konon beberapa waktu lalu terdapat satu mobil eskavator yang terjungkal ke jurang.
Di kiri, dari kejauhan terlihat teluk kecil, perairan yang terlihat tenang tergambar dari sela-sela pepohonan. Nampak juga beberapa batang pohon yang sepertinya baru saja dibabat, dibakar. Hitam dengan permukaan rata di sebelah kanan jalan. Mobil yang dikemudikan Pak Agus mesti bergerak cepat saat kami menikung di satu titik. Butiran kerikil dan pasir masih terlihat baru.
Akhirnya kami sampai di ujung jalan. Di sebelah kanan terdapat semacam tempat parkir. Di sana ada 10 motor bebek sedang diam. Motor ini adalah kendaraan warga yang diparkir di situ karena memang mereka tidak bisa membawa motornya ke kampung. Mobilpun kami parkir. Di kiri sekali lagi terlihat tebing curam.
Kami lalu mengikuti seorang warga yang sepertinya dari kota dan membawa barang bawaan menaiki tangga alam, menaiki tangga kapur alami yang dijejali akar-akar pohon dan semak-semakin melingkar. Ada sulur-sulur pohon bergelantungan. Pertanda masih alami.
Haji Ashar di depan, diikuti Linda lalu Mastan. Saya dan Ruslan masih terperangah menyaksikan pemandangan indah di kiri kanan kampung. Saya segera onkan kamera mendokumentasikan pemandangan di kiri kanan titik itu. Ruslan duduk mengaso sesekali mengisap segaretnya, terlihat lelah.
Hingga beberapa jenak, kamipun menyusul kawan-kawan. Setelah berjalan sejauh 30 meter kami melewati pekuburan tua. Nisan berwarna seragam dari batu alam. Ada beberapa kuburan yang sudah tidak utuh. Pada dua kuburan yang terlihat cukup besar kami saksikan seorang nenek tua berbaju biru muda lengan panjang. Wajahnya terlihat berpupur. Dia sedang duduk santai. Matanya menatap kami yang berjalan ketengah kampung. Ada dua area kuburan yang kami lewati sebelum sampai ke mesjid tua yang hendak kami tuju.
Kami melewati sekumpulan warga yang sedang kerja membangun panggung pesta keluarga. Kami tersenyum dan mereka juga menyambut dengan senyum. Kami terus ke timur dan sebelum sampai ke mesjid tua kami mendapati satu meriam tua teronggok di atas beberapa bongkahan batu karang tua. Mesjid yang kami tuju atapnya warna hijau tua seperti lazimnya model mesjid tua di tanah Jawa. Terdapat dua lapia atap yang kini terbuat dari seng itu.
Dindingnya terbuat dari batako, sepertinya hasil renovasi. Di kiri mesjid terdapat teras. Inilah mesjid pertama Mesjid Awaluddin,Gantarang. Di belakang mesjid terdapat ruangan luas, sepertinya bangunan tambahan. Di selatan terdapattempat wudhu. Bangunan inti mesjid yang berukuran kurang lebih 8×10 meter ini masih terkesan asli. Terdapat tujuh belas tiang penyangga. Empat diantaranya menyangga puncak mesjid yang berbentuk kubus. Kayu penyangganya terhubung dengan pasak kayu.
Di tengah terdapat satu kayu penyangga, lurus ke puncak kepala mesjid. Jika dihitung jumlah tiang termasuk tiang tengah adalah 17 batang. Ada yang bilang ini persis sama dengan jumlah rakaat shalat.
Setelah melihat sekitar mesjid, dan mengawati bagian dalam Haji Ashar menuju tempat wudhu. Beliau siap shalat sunnat. Setelahnya, saya juga melakukan hal sama, shalat sunnat mesjid. Lalu diikuti Mastan dan Ruslan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.10 waktu Gantarang.
Terasa ada nuansa magis saat mengamati bagian dalam mesjid. Di dekat mimbar khatib terdapat dua kain warna putih, yang dibuat berpasangan selurus arah mimbar. Menurut cerita, ada kepercayaan atau semacam keyakinan bahwa saat ada pembacaan khutbah, “pengaruh” Rasulullah “menyesap” ke dalam alur dan proses khutbah itu.
Selain itu, tiang tengah mesjid yang menopang puncak atap mesjid ujungnya sudah terkelupas. Seperti ada yang sengaja mengelupasnya. “Ada yang percaya bahwa itu mengandung berkah” Kata seorang kawan.
Tidak cukup kami menghabiskan waktu di mesjid, kami lalu bergerak ke arah titip yang oleh warga setempat disebut sebagai “possi tana”. Tempatnya agak di ketinggian, di sana, yang dicirikan oleh batuan kapur tua, terdapat lubang kecil sedalam 20 meter yang di atasnya terdapat palang kayu. Inilah yang dipercaya sebagai pusat bumi.
Diantar pak Iskandar, imam Mesjid Awaluddin kami menuju satu kubu kuburan “kecil”. Panjang antara kedua nisan tidak sampai 50 meter. Inilah yang dipercaya sebagai kuburan Dato Ri Bandang itu. Sekilas tidak ada yang istimewa namun, terkesan bahwa kuburan ini dibiarkan begitu saja. Dibiarkan apa adanya. Tidak ada pagar atau sesuatu sebagai penanda. Di sampingnya terdapat pohon besar dan tua.
Juga tidak ada bukti-bukti tertulis atas segala fakta yang kami temui di tempat ini, di Gantarang. Jika membandingkan sejarah lontarak dan berbagai vesri yang menyebutkan bahwa tahun 1605 Masehi, adalah tahun pertama kalinya, Islam diterima secara resmi di Kerajaan Tallo Gowa. Itu setelah masuknya Raja Tallo I Sultan Abdullah Awwalul Islam dengan Raja Gowa XIV, I Mangarangi Dg Manrabbia Sultan Alauddin pada tanggal 22 September 1605 Masehi.
Versi warga Selayar terkhusus di Gantarang menyebutkan bahwa di Gantaranglah, kali pertama Abdul Makmur alias Datuk Ri Bandang asal Kota Minangkabau menjejakkan kaki. Saat dimana dua tahun kemudian, yakni tahun 1607, seluruh rakyat Tallo dan Gowa telah berhasil diislamkan.
Ada hal lain juga, bahwa masih tidak jelas hubungannya antara Dato Ri Tiro yang terkenal di Bulukumba dan Datuk Ri Bandang yang disebut berdiam di Gowa. Faktanya, terdapat beberapa kampung seperti Gantarang di Bulukumba dan Gantarang di Selayar.
“Konon, menurut cerita warga, setiap ada kampung bernama Gantarang, itu berarti pernah dilalui oleh Datuk Ri Bandang” Kata Ruslan, menirukan warga soal kisah Datuk Ri Bandang. Saya juga pernah dengar ada gosong pasir di Taman Nasional Taka Bonerate bernama Taka Gantarang. Sungguhkah itu? Juga di Bulukumba.
Namun demikian jika membaca sejarah versi H. Syaiful Arif, SH dkk dalam buku “Jelajah Pemerintahan & Pembangunan Selayar, Tumanurung – Akib Patta”, yang (kemudian saya ajak berbincang saat bertemu di Bandara Aroeppala hari jumat tanggal 4), Selayar menyebutkan bahwa tahun 1604 merupakan tahun tahun masuknya Agama Islam di Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang yang pada masa itu ditandai dengan Islamnya Radja Gantarang Pangali Patta Radja, dan diberi nama oleh Datuk Ri Bandang “Sultan Alauddin” tahun 1605. Pastinya, banyak versi terhadap ketepatan akan 1605 sebagai tahun masuknya Islam ke Selayar. Persis sama dengan apa yang ditulis di Lontarak.
Menurut pak Syaiful juga, ada beberapa kawasan atau daerah yang bersekutu dan menjadi daerah utama siar islam yang menonjol belakangan dan dapat disingkat “Bontomatene”, yaitu Buki, Onto, Batang Mata, dan Tanete. Keempatnya merupakan wilayah yang menjadi pusat-pusat perkembangan wilayah termasuk syiar islam, yang meneruskan siar pertama di Gantarang Lalang Bata itu. Ini masih bersifat tafsir sejarah.
Saat kami berpikir pulang, ada beberapa kesan yang terbersik dari kunjungan ke Gantarang ini. Jika memang benar Dato Ri Bandang datang ke Gantarang, bisa jadi beliau datang dari arah timur. Dari titik di tengah kampung, menurut Imam Iskandar, terdapat dua jalur jalan setapak yang mengarah ke bukti dan tembus ke pantai.
Agak sulit membenarkan jika Dato datang menetap di Gantarang, Selayar dari barat karena di situ adalah jurang terjal, kalaupun membaca perkembangan kampung, terdapat tiga area kuburan yang terdapat “di belakang” kampung. Adalah tidak lazim jika jalur lalu lalang pada saat itu adalah pekuburan. Jalan yang kemudian menjadi jalan utama menghubungkan Gantarang Lalang Bata dengan ibu kota Kabupaten Selayar, Benteng. Wallahu a’lam bissawab.

Pukul 11.30 kami menuruni jalan setapak di Kampung Gantarang Lalang Bata, kami bergegas menuju Kampung Cini Mabela untuk melaksanakan shalat jumat berjamaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar