SELAYAR
Dusun kecil dan terisolasi Gantarang Lalang Bata, terletak di Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk mencapai kampung kecil ini, memerlukan usaha tersendiri, karena harus melewati jalan sempit ditepian jurang, perbukitan, dipantai timur kabupaten kepulauan Selayar. Kabupaten kepulauan Selayar dapat dicapai dengan perjalanan laut dengan kapal ferry selama 2 jam dari pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba.
Dari kota Benteng kita menuju ke arah timur melewati
jalanan kabupaten yang sempit dan menanjak. Dari jalan utama, memasuki jalan
desa yang sebelah kiri dan kanan jalan terdapat jurang dan hutan kelapa. Di
ujung jalan desa yang terjal, kita harus mendaki tangga yang juga terjal untuk
sampai ke kampung ini. Memasuki perkampungan kita disambut dengan pemandangan
langsung ke pekuburan tua dimana mana, dan juga rumah panggung penduduk yang
berjejer. Ditengah tengah terletak mesjid tua yang juga dikelilingi oleh
pekuburan tua. Perkampungan ini sangat terpencil. Penduduk yang bermukim disini
juga memiliki sepeda motor yang disimpan di tempat parkir khusus sebelum naik
tangga.
Perkampungan Gantarang Lalang Bata adalah sebuah perkampungan kecil dan tua yang sangat terpencil.
Perkampungan Gantarang Lalang Bata adalah sebuah perkampungan kecil dan tua yang sangat terpencil.
Jumlah rumah yang ada dikampung itu sekitar 20an,
dan disekitarnya dikelilingi kuburan tua yang kalau dilihat dari batu batu
nisannya mungkin sudah mencapai 300 – 400an tahun. Kampung ini dikelilingi oleh
jurang terjal dan satu satunya akses kesini adalah tangga dari jalan desa.
Pusat segala kegiatan dari kampung ini adalah mesjid tua yang menurut sejarah
dibangun oleh Datu Ribandang dalam perjalanannya pulang dari Kepulauan Buton.
Mesjid tua di Gantarang ini tiang utamanya konon terbuat dari kayu pohon cabe
(lombok) raksasa. Tiangnya terdirir dari 17 buah melambangkan jumlah rakaat
dalam shalat.
Disamping mesjid tua, ada satu meriam tua yang
tergeletak begitu saja, kemungkinan peninggalan Perang Dunia ke-2. Kalau anda
berkesempatan ke Kepulauan Selayar, silahkan kunjungi kampung ini, dimana anda
akan menemukan suasana lain… suasana relijius, klasik, suasana kampung yang
sepi dan sedikit mistik…
Gantarang
Lalangbata, Kampung Bersejarah
Yang
Terabaikan
Pagi itu, saya bersama seorang rekan
bertolak menuju Dusun Gantarang Lalang Bata, Desa Bontomarannu, Kecamatan
Bontamanai, Kabupaten Kepulauan Selayar, dengan ditemani Ridwan (45), warga
Benteng yang asli Gantarang. Meskipun asli Selayar, tempat bersejarah itu belum
pernah saya injak. Pengetahuan saya tentangnya sebatas perbincangan dari mulut
ke mulut. Deskripsi tertulis atau catatan sejarah hampir-hampir tidak pernah
saya temukan.
Kalau pun ada, bagi saya sangat tidak
memadai. Karena itu, selagi masih muda, saya berketetapan hati mengunjunginya.
Saya tidak ingin lagi dicap tidak tahu apa-apa saat ditanya teman-teman dari
luar. Setelah menempu perjalanan mendaki selama kurang lebih tiga puluh menit
dari Benteng dengan sepeda motor, kami bertiga tiba di Bontomarannu. Dari sana,
Gantarang Lalangbata masih berjarak kira-kira satu kilometer. Saat mulai
menyusuri jalan setapak, rekan yang saya bonceng bertanya, “Ke mana ini ?” Nada
bicaranya seakan-akan tidak percaya.
“Ke Gantarang,” Jawabku. Saya yakin menuju Gantarang karena sepeda motor yang
dikendarai Ridwan selalu berada di depan kami. Saya hanya mengikutinya. Jika
sebelumnya eksostisme pulau Selayar yang terhampar di kiri-kanan jalanan
membuat saya takjub, setelah menyusuri jalan setapak, pemandangan yang saya
lihat begitu menyeramkan, jalanan sangat parah dan jurang di kiri- kanan.
Ditambah lagi dengan pohon-pohon beringin yang kelihatannya sudah berumur tua
membuat kengerian saya pagi itu semakin menjadi-jadi.
“ Kalau di sebelah, mungkin kita sudah dirampok, “ ujarku
sambil menceritakan kejadian-kejadian yang sering terjadi di Maros dan di Gowa.
“Di sini tidak pernah ada kasus-kasus begitu,?” timpal
rekan saya
“Di sini aman, yang banyak cuma pengeboman ikan dan
pembalakan hutan”
Beberapa menit kemudian, kami pun
tiba di pintu masuk Gantarang Lalangbata. Rumah-rumah penduduk belum tampak
karena kampung yang dikelilingi jurang itu berada di atas ketinggian. Setelah
mendaki tangga dari batu-batu alam setinggi kurang lebih dua puluh meter, kami
pun tiba di perkampungan.
Yang pertama kali menyita perhatian
saya adalah kuburan tua di dekat pintu masuk. Nasibnya sama dengan jalan
setapak yang baru saja kami lalui. Andai saya ditemani orang Belanda atau
Jepang saat itu, pasti ia berkata, “Saya tahu mengapa nenekku menjajah
nenekmu.” Ya nenek kita memang bodoh, dan kebodohannya menurun ke anak
cucunya. Masa peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya di abaikan
begitu saja.
Sesampai di perkampungan, kami
langsung singgah di rumah Iskandar (39). Setelah berkenalan, kami pun
mengeluhkan medan berat yang baru saja kami lalui. “Beginilah kondisinya.
Katanya kampung bersejarah tapi saya tidak tahu kenapa tidak pernah
diperhatikan. Dari dulu begini-begini,” ujar muliati, isteri Iskandar.
Saat kami mulai bertanya sejarah masuknya Islam di Gantarang, Iskandar malah
memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan.
“Sering ada orang untuk meneliti, tapi tidak pernah ada
hasilnya. Sehari semalam kami bercerita Cuma menghabiskan air liur saja,” ujarnya.
Ucapan Iskandar bisa bermaksud ganda : hasil penelitian tidak pernah jelas dan
atau tidak berimplikasi apa pun bagi perbaikan kampungnya. Karena kami datang
bukan sebagai peneliti sejarah, tidak ada alasan untuk tersinggung.
Selepas makan siang, kami bersiap-siap
menunaikan salat Jum’at Masjid Tua Gantarang. Pada waktu yang sama melintas
seorang peneliti dari Yunani bersama pemandunya. Bule’ itu berhenti sejenak,
dan langsung menyapa, “Selamat siang.”
“Selamat siang, Mister,” jawabku. Terus terang, saya kagum dengan kefasihannya
dalam berbahasa Indonesia.
“Boleh saya melihat Musallah ?”
“Boleh.” Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah si bule’ sekedar
berbasa basi ataukah tampangku memang mirip kepala kampung, ya ?
Si bule’ bergegas menuju masjid, dan
kami pun segera mengikutinya. Sampai di masjid, si bule’ dikerumuni jamaah. Ia
mempertanyakan tahun berdirinya masjid. Karena tidak ada sumber-sumber tertulis
yang bisa dipercaya validitasnya, Dg Demma (55) tokoh masyarakat Gantarang
menjawab berdasarkan informasi yang pernah didengarnya dari para peneliti Barat
lainnya. “Peneliti Jerman dan Belanda yang pernah datang kemari mengatakan,
mesjid ini dibangun pada abad ke-16,” ujarnya kepada si bule’. Mesjit Tua
Gantanrang sebenarnyasudah bukan lagi yang asli. Lokasinya sudah dipindahkan,
bangunannya pun sudah direnovasi berkat bantuan Tanri Abeng.
Si bule’ tidak berlama-lama di dalam
mesjid. Setelah mengambil gambar, ia lalu bergegas pergi. Boleh jadi ia hanya
bermaksud melihat langsung Gantarang Lalangbata. Untuk urusan data, saya yakin
arsip-arsip Belanda yang tersimpan di Leiden, misalnya, jauh lebih memadai.
Tidak lama berselang perginya si bule’ salat Jumat pun dimulai.
Setelah dua orang muadzin melantunkan
azan di depan mimbar secara bersamaan, salah seorang di antaranya lalu
menjemput khatib yang duduk di sisi kiri mesjid. Di dekat khatib terdapat
sebuat tongkat yang disandarkanke dinding mesjid. Dulu tongkat itu berupa
pedang. Muadzin penjemput lalu berjalan ke arah mimbar secara perlahan-lahan,
diikuti khatib di belakangnya. Setelah tiba di mimbar, khatib menerima tongkat
lalu memulai khutbahnya dengan membaca naska tua berbahasa Arab. Judding (22),
sang khatib, sangat fasih membaca naskah tua khutbah. Sebelumnya, muadzin
penjemput mengumumkan kepada jamaah bahwa khutbah Jumat sebentar lagi dimulai.
Semua penyampaian dalam bahasa Arab, sayangnya, tidak semua jamaah memahami
artinya, lebih-lebih saya.
Salat Jumat usai, kami bergegas
menuju tempat-tempat “Keramat” yang biasa saya dengar dari orang-orang. Tanpa
komando, beberapa anak menemani kami. Merekalah yang menunjukkan tempat-tempat
yang saya maksud. Tempat pertama yang kami datangi adalah tumpukan batu yang
konon dahulu kala dijadikan tempat latihan thawaf bagi calon jamaah haji.
Didekat tumpukan batu itu terdapat sebuah lubang dengan kedalaman kira-kira
setengah meter yang di sebut pakkojokang. Menurut cerita orang-orang
disana, lubang itu tidak pernah tergenang air meskipun hujan deras, padahal
dasarnya adalah batu.
Karena penasaran, teman saya bertanya, “Boleh turun ?”
“Tidak boleh” ujar seorang anakyang menyertai kami, spontan.
“Ah, masa ?” ujar teman saya. Teman yang keras kepala itu mengambil
ancang-ancang untuk melompat ke dalam lubang. Karena saya tidak ingin kembali
ke Benteng seorang diri, saya pun ikut-ikutan berteriak, “Eh, jangan !”.
Setelah puas mengamati pakkojokang,
kami beralih ke lokasi “bekas tapak kaki Nabi Muhammad” yang terletak
diatas batu cadas. Ukuran dua bekas tapak kaki yang saya lihat sangat besar.
Kami sangat beruntung hari itu karena konon hanya orang-orang luar biasa yang
dapat melihatnya. Saat itu rombongan kami bertambah setelah dua orang dewasa
ikut bergabung. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah makam Datok Ri
Bandang. Makam ini sendiri, tidak bergabung dengan makam-makam lainnya.
Posisinya membujur dari arah timur barat. Konon si mayit saat dikuburkan
menghadap ke atas, bukan ke samping. Kondisi kuburannya sangat sederhana, hanya
terdiri dari susunan batu. Nisannya juga begitu. Agak berbeda dengan kuburan
tua lainnya yang memiliki nisan dengan model tertentu.
Sehabis itu, kami diajak ke salah
satu pintu masuk yang berada di sebelah timur. Dulu pintu ini adalah jalan
utama ke Gantarang Lalangbata karena jalur transportasi saat itu lewat laut.
Sedangkan pintu sebelah barat hanya jalan ke kebun atau tempat mundur jika
musuh menguasai perkampungan. Disitu terlihat betapa indahnya panorama pantai
timur. Jarak bibir pantai dengan perkampungan kira-kira satu kilometer. Mendaki
tebing sejauh itu tentu bukanlah pekerjaan mudah. Herkules saja pasti
ngos-ngosan untuk mencapai perkampungan. Tapi anehnya, orang-orang disana sudah
biasa mendaki lebih jauh dari itu, dengan beban di pundak pula.
Sekitar tiga kilometer dari
perkampungan, terdapat sebuah tanjung yang disebut turungan. Saat ini,
pelabuhan alam itu masih sering disinggahi perahu-perahu nelayan yang bermaksud
mengambil air minum. Di sekitarnya terdapat kebun-kebun milik orang gantarang.
Di sana terdapat kuburan kuno. Tidak menutup kemungkinan di sanalah orang-orang
Gantarang pertama kali bermukim sebelum pindah keatas bukit.
Sebelum pulang, kami menyempatkan
diri bertamu ke rumah Dg Demma. Saat berbincang-bincang, ia mengatakan, “Saya
malu karena orang luar lebih tahu tempat ini. Soal kondisinya yang terabaikan,
tidak apa-apalah. Kan bukan juga kami yang malu tapi pemerintah”
Gantarang Lalang Bata (di Balik Misteri “Bekas Telapak Kaki” Nabi Muhammad)
Jika
dilihat sepintas, Gantarang Lalang Bata di Selayar yang dianggap sebagai tanah
suci oleh orang-orang tertentu yang meyakininya, tampak tidak mengandung
sesuatu yang istimewa untuk disimak. Kalaupun harus dianggap unik, hanya
sekitar bentuk, model, dan letak perkampungan yang berbeda dengan pemukiman di
tempat lain. Perkampungan ini berada di atas ketinggian dan dikelilingi
(diapit) oleh pagar batu (kondisi seperti inilah yang dijadikan alasan untuk
penamaannya).
Istilah Gantarang
sepadan artinya dengan wanua (kampung, Bugis). Karena itu, Gantarang
Lalang Bata dapat diartikan sebagai kampung yang berada di dalam pagar batu.
Lingkungan atau pemukiman yang berada dalam pagar batu tersebut, biasa disebut lalang
emba atau ilalang embaya dan penyebutan untuk di luar tempat itu
adalah pantarang emba. Jadi di dalam emba inilah, tempat yang
dianggap suci dan skaral sehingga sering digunakan oleh orang-orang tertentu
dari berbagai daerah untuk melepas hajatan, membayar nazar, dan sejumlah
kepentingan lainnya. Bahkan menurut kepercayaan banyak orang, terdapat berkas
telapak kaki Nabi Muhammad SAW di tempat ini.
Mendengar istilah
bekas telapak kaki Nabi Muhammad, maka ragam penafsiran serta multi
persepsi akan muncul mewarnai pikiran. Mereka yang berpikir simple
dengan mengandalkan potensi rasionalitasnya, akan menganggapnya sama sekali
tidak memiliki nilai kebenaran. Bahkan akan mengganggapnya mustahil, apalagi
hubungan historis secara langsung antara Gantarang dan Mekkah tidak pernah
terjalin. Dalam istilah bahasa lokal di Sulawesi Selatan, disebut ”carita
mate” (cerita tidak masuk akal). Sebaliknya, di sisi lain keyakinan yang
dianggap tidak masuk akal ini, justru tumbuh subur bersama rasa percaya bahwa
hal itu memang benar adanya.
Jika ditelusuri secara
historis mengenai cerita tentang bekas telapak kaki nabi ini, sesungguhnya
telah lama dipercayai oleh banyak orang. Bahkan cerita ini telah dilengkapi
oleh sebuah upaya ”pembenaran justifikatif” bahwa latar keberadaan bekas
telapak kaki ini, terkait dengan cerita bahwa konon rencana awal Mekkah itu
adalah di tempat ini (Gantarang). Akan tetapi, karena sesuatu dan lain hal maka
akhirnya diputuskan Mekkah itu di Arab Saudi.
Kepercayaan terhadap
cerita inilah yang menyebabkan sehingga muncul keyakinan bahwa tempat ini
adalah Mekkah kedua yang kurang lebih sama statusnya dengan Mekkah yang
sebenarnya. Bahkan banyak orang meyakini bahwa bekas telapak kaki Nabi
Muhammad, yang ada di Gantarang adalah kaki sebelah kiri. Sementara itu, kaki
sebelahnya lagi (kanan) ada di Mekkah (Arab Saudi).
Keyakinan kuat untuk
”menyamakan” posisi Gantarang dengan Mekkah ini, boleh jadi merupakan salah
satu faktor penyebab lahirnya anggapan bahwa ada bekas telapak kaki nabi di
tempat ini. Maksudnya, bahwa untuk lebih menguatkan argumen tentang status
Gantarang ini, maka mesti informasinya dipaketkan dengan perihal nabi.
Konsekuensinya, terjadilah proses pewarisan secara transmisif dari generasi ke
generasi sehingga keyakinan ini pun demikian kukuhnya menancap dalam benak para
pengagumnya. Lalu bagaimana sepantasnya hal yang ”tidak masuk akal” menurut orang-orang
tertentu ini, diposisikan secara ilmiah?.
Tugas kita adalah
mencoba menggiring anggapan ini dari luar akal pikiran ke dalam akal (atau
minimal menempatkannya di sekitar akal), lalu merasionalkannya. Upaya ini,
tentu harus dimulai dari sebuah bangunan asumsi yang ditopang oleh premis
menganggap bahwa orisinalitas suatu ideologi atau ajaran kerap
sulit ditemukan pada komunitas pendukung budaya (tradisi) tertentu. Karena itu,
dalam kaitannya dengan ajaran Islam, maka akan ditemukan dua dimensi dalam
realitasnya yakni ada kultur Islam dan ada pula Islam kultur.
Dalam pengertian lain
bahwa jika agama Islam masuk dan mulai diyakini oleh suatu masyarakat, maka
akan terjadi proses penyesuaian (adaptasi) antara kepercayaan lama dengan
ajaran yang baru. Proses persesuaian antara kepercayaan (budaya) lama dengan
sistem kepercayaan baru seperti ini dalam pandangan Azyumardi Azra (1992)
dinamakan adhesi. Karena itu, kolaborasi-integratif antara kedua kedua
unsur ini mesti dimaknai sebagai fenomena kultural yang wajar.
Kiranya pada dimensi
kedualah, Islam di Gantarang hendak diposisikan. Karena itu, jika pondasi
ilmiah seperti ini digunakan untuk memahami perihal atau kepercayaan semisal
adanya bekas telapak kaki Nabi Muhammad, maka tentu tidak sulit menentukan kesimpulan.
Dalam pengertian lain bahwa memahami fenomena seperti ini, tidak boleh dipahami
secara tekstual melainkan dengan hampiran kontekstual.
Menelusuri akar
penyebab penamaan istilah atau anggapan akan adanya bekas telapak kaki Nabi
Muhammad di Gantarang, sepantasnya harus dikembalikan pada konteks zamannya.
Dugaan yang mudah diterima oleh akal sehat, yakni anggapan ini kemungkinan
awalnya hanya sebuah istilah yang digunakan sebagai alat legitimasi. Artinya
bahwa ia adalah penguat eksistensi atas Gantarang dahulu yang pernah menjadi
pusat pengembangan ajaran Islam di Selayar.
Karena itu, demikian
kuat dan kentalnya kepercayaan akan fungsi penting Gantarang sebagai tempat
awal masuknya Islam di Bumi Tanadoang sehingga memunculkan beragam asumsi
atasnya. Demikian pula lahirnya kecenderungan menganggap tempat ini suci dan
sakral sehingga dipandang sebagai tempat berdo’a yang paling afdal,
bukan tidak mungkin juga berawal dari kedudukan penting Gantarang pada masa
awal masuknya ajaran Islam.
Sebuah cerita menarik
dalam kaitannya dengan kedudukan Gantarang sebagai pusat pengembangan ajaran
Islam periode awal, yakni ada seseorang yang sepulang belajar agama Islam
keliru dalam penerapannya. Betapa tidak, konon kabarnya lelaki yang belum
terlalu tua usianya ini kembali dari Gantarang belajar agama Islam yakni surat
Al-Fatihah dan bacaan saat azan. Rupanya saat magrib pertama setelah ia tiba di
kampungnya, ia lalu mempraktekkan dan kemudian mengajarkan kepada warga lain
cara melakukan adzan. Akan tetapi, karena sang lelaki tadi tidak memiliki
catatan dan hanya menghafal pelajaran yang diterimanya di Gantarang, dalam
penerapannya justru terbalik. Akibatnya, saat ia mempraktekkan adzan justru
surat Al-fatihah yang bacanya.
Tampaklah kejadian aneh
dan cenderung lucu yang tadinya tidak dipersoalkan, kerena memang orang lain
belum mengetahuinya. Jadi lelaki tadi melakukan azan dengan mengumandangkan
kalimat berikut yakni: ”bismillahirrahmanirrahim… 2x”, ”alhamdulillahi
rabbilalamin… 2x”, dan seterusnya. Kekeliruan yang agak lucu ini, baru
dikoreksi saat lelaki tadi pulang untuk kedua kalinya belajar di Gantarang.
Contoh kisah singkat
serta beberapa cerita rakyat lainnya, merupakan suatu pertanda bahwa Gantarang
memang pernah menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ajaran Islam. Posisi
penting tempat ini sebagai Islamic Center periode awal, memang sangat
berpotensi untuk dimaknakan sedemikian rupa termasuk mengkultus-sakralkannya.
Apalagi, pemaknaan atas nilai-nilai sakral yang disematkan pada peran
Gantarang, juga dipersubur oleh isu-isu dan keterangan masyarakat yang
cenderung bersifat mitos.
Pemitos-sakralan terhadap sesuatu termasuk bekas
telapak kaki Nabi Muhammad di Gantarang, pada dasarnya tidak dapat disalahkan.
Sebaliknya, harus dimaklumi mengingat bahwa terjadinya mitos terhadap sesuatu
itu, disebabkan oleh refleksi dari keingintahuan manusia terhadap apa yang
dilihat atau dirasakannya sedangkan kemampuan untuk itu relatif terbatas. Tidak
seimbangnya antara dorongan ingin tahu dengan kemampuan berpikir manusia terutama
pada zaman kuno, itulah yang menyebabkan lahirnya mitos.
Anggapan dan bahkan kepercayaan mengenai adanya bekas
telapak kaki Nabi Muhammad di Gantarang, boleh jadi disebabkan oleh anggapan
berlebihan atas sesuatu yang diyakininya. Bahkan bukan tidak mungkin makna
bekas telapak kaki Nabi itu, sama statusnya dengan ungkapan yang berbunyi “makkasara’mi
Nabbi Muhammad” (Nabi Muhammad telah menampakkan wujudnya).
Ungkapan ini lahir sebagai refleksi dari suatu kisah
tentang pertemuan Raja Tallo dengan seseorang yang berusia tua di tengah
perjalanan dan orang tua itu menanyakan perihal tujuannya. Orang tua tadi
menuliskan sesuatu di atas ibu jari Raja Tallo yang ternyata itu adalah Surat
Al-fatihah. Berdasarkan penjelasan Datuk Ri Bandang, bahwa orang tua tadi
adalah Nabi Muhammad. Pertemuan Raja Tallo dengan orang tua tersebutlah, yang
dalam bahasa Makassar disebut “Makkasara’mi Nabbi Muhammad ri Buttaya ri
Tallo”. Kalimat ini, bermakna “Nabi Muhammad menjelma atau
menampakkan diri di Kerajaan Tallo”.
Sebagaimana pengislaman di Kerajaan Tallo dan Gowa, di
Gantarang Nabi Muhammad juga tidak langsung membawa ajaran Islam. Karena itu,
makna Makkasara’mi Nabbiya dan bekas telapak kaki Nabi Muhammad
kedudukannya sama dari segi makna yang konotatif. Karena itu, dari segi
kekuatan informasi maka kedua ungkapan makkasara dan jejak telapak
kaki Nabi tersebut, sangat potensial untuk kepentingan pengislaman.
Dengan demikian, anggapan bahwa Nabi Muhammad pernah
menampakkan wujudnya di kerajaan Tallo maupun di Gantarang Selayar, seharusnya
dimaknai sebagai ajarannya yang telah diterima dan diyakini dalam hati oleh
orang-orang di kedua tempat ini. Dalam pengertian lain bahwa secara
kontekstual, anggapan yang sepintas kurang dan bahkan tidak rasional ini,
sepantasnya dimaknai secara konotatif. Artinya, bahwa mereka yang mengganggap
ada bekas telapak kaki Nabi di Gantarang tidak perlu dipersalahkan. Bahkan
tidak semestinya mempersoalkannya hingga melibatkan dalil agama apalagi
membenturkannya dengan argumen yang menggunakan hampiran pemikiran kultural.
***
Menafsir Jejak Datuk Ri Bandang di Gantarang Lalang
Bata
Enam
tahun lalu saat tinggal di Kota Benteng, Selayar, saya tidak pernah berpikir
atau diberitahu sekalipun bahwa Gantarang Lalang Bata, adalah kampung pertama
yang dijejaki oleh Datuk Ri Bandang. Penganjur Islam yang disebut sebagai orang
pertama yang membawa ajaran Muhammad SAW ke jazirah selatan Sulawesi.
Saat
itu yang saya tahu bahwa Gantarang Lalang Bata, satu daerah di ketinggian
sebelah timur Selayar yang sarat oleh cerita mitos. Ke sananya pun harus
berjalan kaki dan mendaki tebing berbatu kapur. Orang-orang yang ke sana,
dianjurkan untuk “membenturkan kepalanya” dengan perlahan sebagai pertanda
keselamatan. Saat itu, Gantarang Lalang Bata adalah satu kampung kecil yang
masih terisolir.Untuk ke sana kita mesti mendaki tangga batu yang di kelilingi
tebing rimbun.
Minggu
lalu, adalah kedatangan ketiga saya selama setahun terakhir di Selayar setelah
meninggalkan daerah ini tahun 2003. Secara kebetulan, saat itu kami mengadakan
praktek lapang di Kampung Cini Mabela, Desa Parak. Utara Kota Benteng. Saat
peserta sedang berpraktek melakukan observasi desa, saya mengajak pak Haji
Ashar, Ruslan, Linda, Mastan untuk menyusuri perbukitan belahan timur.
Tidak
terlintas bahwa daerah yang kami tuju adalah juga bagian dari wilayah Gantarang
Lalang Bata (GLB), Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomarannu. Di pikiran saya,
saat mobil sampai ke ujung jalan utama kami akan berada di puncak Selayar,
puncak tertinggi. Tapi tidak, setelah berhenti sejenak di satu kampung, kami
mendengar bahwa jika kami berbelok ke kanan maka di situ adalah titik menuju
Gantarang Lalang Bata yang terkenal itu.
Setelah
berdiskusi dengan kawan akhirnya kami putuskan ke GLB. Waktu sudah menunjukkan
pukul 10.30 waktu Selayar saat kami mulai melintasi jalan berliku dan curam.
Tepatnya, pagi menjelang siang di hari jumat di bulan Desember 2009. Kita masih
punya waktu satu jam untuk menengok kampung GLB.
Kami
melewati jalan kecil walau sudah di aspal rapi. Di kiri jalan terdapat sungai
kecil yang airnya tenang. Saat melewati beberapa meter dari belokan kanan jalan
kami mulai mendapat jalan yang masih baru. Jalan beton. Di kiri kanan terlihat
jurang. Masih terdapat molen campuran pasir semen. Konon beberapa waktu lalu
terdapat satu mobil eskavator yang terjungkal ke jurang.
Di
kiri, dari kejauhan terlihat teluk kecil, perairan yang terlihat tenang
tergambar dari sela-sela pepohonan. Nampak juga beberapa batang pohon yang
sepertinya baru saja dibabat, dibakar. Hitam dengan permukaan rata di sebelah
kanan jalan. Mobil yang dikemudikan Pak Agus mesti bergerak cepat saat kami
menikung di satu titik. Butiran kerikil dan pasir masih terlihat baru.
Akhirnya
kami sampai di ujung jalan. Di sebelah kanan terdapat semacam tempat parkir. Di
sana ada 10 motor bebek sedang diam. Motor ini adalah kendaraan warga yang
diparkir di situ karena memang mereka tidak bisa membawa motornya ke kampung.
Mobilpun kami parkir. Di kiri sekali lagi terlihat tebing curam.
Kami
lalu mengikuti seorang warga yang sepertinya dari kota dan membawa barang
bawaan menaiki tangga alam, menaiki tangga kapur alami yang dijejali akar-akar
pohon dan semak-semakin melingkar. Ada sulur-sulur pohon bergelantungan.
Pertanda masih alami.
Haji
Ashar di depan, diikuti Linda lalu Mastan. Saya dan Ruslan masih terperangah
menyaksikan pemandangan indah di kiri kanan kampung. Saya segera onkan kamera
mendokumentasikan pemandangan di kiri kanan titik itu. Ruslan duduk mengaso
sesekali mengisap segaretnya, terlihat lelah.
Hingga
beberapa jenak, kamipun menyusul kawan-kawan. Setelah berjalan sejauh 30 meter
kami melewati pekuburan tua. Nisan berwarna seragam dari batu alam. Ada
beberapa kuburan yang sudah tidak utuh. Pada dua kuburan yang terlihat cukup
besar kami saksikan seorang nenek tua berbaju biru muda lengan panjang.
Wajahnya terlihat berpupur. Dia sedang duduk santai. Matanya menatap kami yang
berjalan ketengah kampung. Ada dua area kuburan yang kami lewati sebelum sampai
ke mesjid tua yang hendak kami tuju.
Kami
melewati sekumpulan warga yang sedang kerja membangun panggung pesta keluarga.
Kami tersenyum dan mereka juga menyambut dengan senyum. Kami terus ke timur dan
sebelum sampai ke mesjid tua kami mendapati satu meriam tua teronggok di atas
beberapa bongkahan batu karang tua. Mesjid yang kami tuju atapnya warna hijau
tua seperti lazimnya model mesjid tua di tanah Jawa. Terdapat dua lapia atap
yang kini terbuat dari seng itu.
Dindingnya
terbuat dari batako, sepertinya hasil renovasi. Di kiri mesjid terdapat teras.
Inilah mesjid pertama Mesjid Awaluddin,Gantarang. Di belakang mesjid terdapat
ruangan luas, sepertinya bangunan tambahan. Di selatan terdapattempat wudhu.
Bangunan inti mesjid yang berukuran kurang lebih 8×10 meter ini masih terkesan
asli. Terdapat tujuh belas tiang penyangga. Empat diantaranya menyangga puncak
mesjid yang berbentuk kubus. Kayu penyangganya terhubung dengan pasak kayu.
Di
tengah terdapat satu kayu penyangga, lurus ke puncak kepala mesjid. Jika
dihitung jumlah tiang termasuk tiang tengah adalah 17 batang. Ada yang bilang
ini persis sama dengan jumlah rakaat shalat.
Setelah
melihat sekitar mesjid, dan mengawati bagian dalam Haji Ashar menuju tempat
wudhu. Beliau siap shalat sunnat. Setelahnya, saya juga melakukan hal sama,
shalat sunnat mesjid. Lalu diikuti Mastan dan Ruslan. Waktu sudah menunjukkan
pukul 11.10 waktu Gantarang.
Terasa
ada nuansa magis saat mengamati bagian dalam mesjid. Di dekat mimbar khatib
terdapat dua kain warna putih, yang dibuat berpasangan selurus arah mimbar.
Menurut cerita, ada kepercayaan atau semacam keyakinan bahwa saat ada pembacaan
khutbah, “pengaruh” Rasulullah “menyesap” ke dalam alur dan proses khutbah itu.
Selain
itu, tiang tengah mesjid yang menopang puncak atap mesjid ujungnya sudah
terkelupas. Seperti ada yang sengaja mengelupasnya. “Ada yang percaya bahwa itu
mengandung berkah” Kata seorang kawan.
Tidak
cukup kami menghabiskan waktu di mesjid, kami lalu bergerak ke arah titip yang
oleh warga setempat disebut sebagai “possi tana”. Tempatnya agak di ketinggian,
di sana, yang dicirikan oleh batuan kapur tua, terdapat lubang kecil sedalam 20
meter yang di atasnya terdapat palang kayu. Inilah yang dipercaya sebagai pusat
bumi.
Diantar
pak Iskandar, imam Mesjid Awaluddin kami menuju satu kubu kuburan “kecil”. Panjang
antara kedua nisan tidak sampai 50 meter. Inilah yang dipercaya sebagai kuburan
Dato Ri Bandang itu. Sekilas tidak ada yang istimewa namun, terkesan bahwa
kuburan ini dibiarkan begitu saja. Dibiarkan apa adanya. Tidak ada pagar atau
sesuatu sebagai penanda. Di sampingnya terdapat pohon besar dan tua.
Juga
tidak ada bukti-bukti tertulis atas segala fakta yang kami temui di tempat ini,
di Gantarang. Jika membandingkan sejarah lontarak dan berbagai vesri yang
menyebutkan bahwa tahun 1605 Masehi, adalah tahun pertama kalinya, Islam
diterima secara resmi di Kerajaan Tallo Gowa. Itu setelah masuknya Raja Tallo I
Sultan Abdullah Awwalul Islam dengan Raja Gowa XIV, I Mangarangi Dg Manrabbia
Sultan Alauddin pada tanggal 22 September 1605 Masehi.
Versi
warga Selayar terkhusus di Gantarang menyebutkan bahwa di Gantaranglah, kali
pertama Abdul Makmur alias Datuk Ri Bandang asal Kota Minangkabau menjejakkan
kaki. Saat dimana dua tahun kemudian, yakni tahun 1607, seluruh rakyat Tallo
dan Gowa telah berhasil diislamkan.
Ada
hal lain juga, bahwa masih tidak jelas hubungannya antara Dato Ri Tiro yang
terkenal di Bulukumba dan Datuk Ri Bandang yang disebut berdiam di Gowa.
Faktanya, terdapat beberapa kampung seperti Gantarang di Bulukumba dan
Gantarang di Selayar.
“Konon,
menurut cerita warga, setiap ada kampung bernama Gantarang, itu berarti pernah
dilalui oleh Datuk Ri Bandang” Kata Ruslan, menirukan warga soal kisah Datuk Ri
Bandang. Saya juga pernah dengar ada gosong pasir di Taman Nasional Taka
Bonerate bernama Taka Gantarang. Sungguhkah itu? Juga di Bulukumba.
Namun
demikian jika membaca sejarah versi H. Syaiful Arif, SH dkk dalam buku “Jelajah
Pemerintahan & Pembangunan Selayar, Tumanurung – Akib Patta”, yang
(kemudian saya ajak berbincang saat bertemu di Bandara Aroeppala hari jumat
tanggal 4), Selayar menyebutkan bahwa tahun 1604 merupakan tahun tahun masuknya
Agama Islam di Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang yang pada masa itu
ditandai dengan Islamnya Radja Gantarang Pangali Patta Radja, dan diberi nama
oleh Datuk Ri Bandang “Sultan Alauddin” tahun 1605. Pastinya, banyak versi
terhadap ketepatan akan 1605 sebagai tahun masuknya Islam ke Selayar. Persis
sama dengan apa yang ditulis di Lontarak.
Menurut
pak Syaiful juga, ada beberapa kawasan atau daerah yang bersekutu dan menjadi
daerah utama siar islam yang menonjol belakangan dan dapat disingkat
“Bontomatene”, yaitu Buki, Onto, Batang Mata, dan Tanete. Keempatnya merupakan
wilayah yang menjadi pusat-pusat perkembangan wilayah termasuk syiar islam,
yang meneruskan siar pertama di Gantarang Lalang Bata itu. Ini masih bersifat
tafsir sejarah.
Saat
kami berpikir pulang, ada beberapa kesan yang terbersik dari kunjungan ke
Gantarang ini. Jika memang benar Dato Ri Bandang datang ke Gantarang, bisa jadi
beliau datang dari arah timur. Dari titik di tengah kampung, menurut Imam
Iskandar, terdapat dua jalur jalan setapak yang mengarah ke bukti dan tembus ke
pantai.
Agak
sulit membenarkan jika Dato datang menetap di Gantarang, Selayar dari barat
karena di situ adalah jurang terjal, kalaupun membaca perkembangan kampung,
terdapat tiga area kuburan yang terdapat “di belakang” kampung. Adalah tidak
lazim jika jalur lalu lalang pada saat itu adalah pekuburan. Jalan yang
kemudian menjadi jalan utama menghubungkan Gantarang Lalang Bata dengan ibu
kota Kabupaten Selayar, Benteng. Wallahu a’lam bissawab.
Pukul
11.30 kami menuruni jalan setapak di Kampung Gantarang Lalang Bata, kami
bergegas menuju Kampung Cini Mabela untuk melaksanakan shalat jumat berjamaah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar