Jumat, 22 Mei 2015

Senin, 18 Mei 2015

Skripsiku

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dianggap penting dalam proses belajar mengajar. Dikatakan demikian, karena kegiatan menulis cukup memberikan manfaat dalam meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan. Bahkan banyak pekerjaan yang tidak lepas dari kegiatan tulis-menulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menulis dapat menunjang kelancaran aktivitas kehidupan manusia sehingga wajar jika dikatakan tiada hari tanpa menulis.
Berkaitan dengan hal tersebut, menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan berbahasa paling akhir dikuasai pelajar bahasa setelah kemampuan mendengar, berbicara, dan membaca. Jika dibandingkan dengan ketiga kemampuan berbahasa tersebut, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai bahkan penutur asli bahasa yang bersangkutan sekali pun. Hal itu disebabkan kemampuan menulis memerlukan penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi karangan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi harus terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan karangan yang runtut dan padu.
Jika dalam kegiatan berbicara harus menguasai lambang-lambang bunyi, maka kegiatan menulis menghendaki penguasaan lambang atau simbol-simbol visual dan aturan tatatulis khususnya yang menyangkut masalah ejaan. Unsur situasi dan linguistik yang sangat efektif membantu komunikasi dalam berbicara, tak dapat dimanfaatkan dalam menulis. Kelancaran komunikasi dalam suatu karangan sama sekali tergantung pada bahasa yang dilambangkan. Karangan adalah suatu bentuk sistem komunikasi lambang visual. Agar komunikasi lewat lambang tuis dapat diwujudkan sesuai dengan keinginan yang diharapkan, penulis hendaklah menuangkan gagasannya kedalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap.
Selanjutnya, kegiatan menulis dianggap sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang harus didasari pengetahuan seperti halnya pengetahuan dari ketiga keterampilan yang telang disinggung sebelumnya. Hal ini tidak berarti bahwa ruang lingkup, proses, dan wujudnya yang dihadirkannya identik karena menulis memiliki ruang lingkup, proses, dan ciri perwujudannya sendiri.
Mengingat pentingnya kegiatan menulis, dalam proses belajar mengajar di sekolah tetap diajarkan kegiatan menulis dalam pelajaran bahasa Indonesia. Dengan diajarkannya keterampilan menulis atau mengarang diharapkan siswa atau mahasiswa mempunyai keterampilan dalam menulis yang selanjutnya dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari meskipun tingkat kerumitannya lebih tinggi.
Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahasa Indonesia SMA dikemukan bahwa pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar-berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Hal ini berarti bahwa dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia selalu ada usaha-usaha yang terus menerus untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Mengingat kegiatan menulis atau mengarang dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang paling sulit., baik dikalangan siswa atau mahasiswa maupun dikalangan guru sekali pun, kegiatan menulis atau mengarang di kalangan siswa harus terus diajarkan. Hal ini tentu berkaitan dengan tujuan peningkatan keterampilan berbahasa secara berkesinambungan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kemampuan menulis merupakan modal penting dalam kehidupan seseorang, baik disekolah di luar sekolah. Kemampuan menulis dianggap sebagai suatu bentuk komunikasi secara tertulis. Bahkan dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan bagi setiap orang, terutama kepada siswa dalam kaitannya dengan apa yang akan dihadapinya dalam kehidupan bermasyarakat seperti kegiatan surat menyurat, promosi, pengantar acara resmi (pidato), dan karang-mengarang.
Akhadiah ddk (2000: 1) menyatakan bahwa:
“kemampuan menulis bagi siswa sekolah lanjutan amat penting. Kemampuan menulis amat bermanfaat, baik ketika terjun ke masyarakat maupun ketika melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Siswa yang akan melanjutkan pendidikannya keperguruan tinggi memerlukan bekal kemampuan menulis karena dalam proses perkuliahan banyak melinatkan kegiatan menulis. Kegiatan menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses yang dialami oleh siswa atau mahasiswa selama menuntut illmu di sekolah atau di kampus.

Kegiatan pengembangan pembelajaran menulis dapat dilakukan dengan kegiatan mengembangkan logika, melatih daya imajinasi, merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai kalimat menjadi paragraf. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya kreatifitas siswa atau mahasiswa dalam mengasah kecerdasan mereka (Purwo dalam one.indoskripsi.com/skripsi-m...)
Kegiatan menulis juga merupakan alat untuk belajar sekaligus berperan penting dalam dunia pendidikan (Ambo Enre, 1998:3). Hal ini menunjukkan bahwa melalui kegiatan menulis, secara langsung memungkinkan proses pengalihan berbagai informasi, ilmu pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman bernilai fositif bagi keberhasilan proses belajar si pembelajar. Dengan demikian, dunia pendidikan sangat membutuhkan kegiatan menulis sebagai salah satu pertanda adanya kemajuan dalam dunia pendidikan itu sendiri.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil memanfaatkan grofologi, struktur bahasa, dan kosa kata (Kurniawan dalam one.indoskripsi.com/judul-skripsi-m...)
Kemampuan menulis bukan saja berdampak positif dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah, melainkan dapat pula memberikan peluang untuk memperoleh penghasilansebagai penulis artikel, penulis cerita fiktif, penulis buku, atau sebagai wartawan.
Kemampuan menulis yang memadai khususnya dalam karang-mengarang, tidak akan diperoleh tanpa menguasai berbagai keterampilan, yaitu keterampilan memilih kata yang tepat, membuat kalimat efektif, keterampilan menggunakan ejaan dan tanda baca, serta keterampilan dalam menata setiap gagasan secara jelas dan tepat. Hal inilah yang membuat kegiatan menulisatau mengarang bagi siswa atau bahkan mahasiswa agak sulit berkembang karena tidak trampilnya siswa atau mahasiswa menguasai hal tersebut di atas.
Adapun penyebab tidak tercapainya tujuan pembelajaran menulis adalah: (1) rendahnya tingkat penguasaan kosa kata sebagai akibat rendahnya minat baca, (2) kurangnya penguasaan internal kebahasaan seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah penulisan, diksi, penyusunan kalimat dengan stuktur yang benar, sampai penyusunan paragraf, (3) kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa dan mahasiswa (Trimantara dalam one.indiskrips.com/judul-skrips-m...)
Kenyataan tersebut telah banyak dibuktikan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan, baik mahasiswa lewat penelitiannya,guru melalui hasil belajar siswanya, dan para peneliti bahasa yang telah melakukan penelitian tanpa henti dengan berbagai bentuk dan jenisnya.
Dalam pembelajaran menulis di SMA Muhammadiyah Bulukumba, menulis merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Dalam kompetensi dasar ini tertuang materi dan indikator yang harus dicapai. Salah satu materi pembelajaran paragraf yang dimaksud adalah paragraf deduktif dengan indikator di antaranya adalah dapat mengembangkan penalaran deduktif.
Kenyataan di atas membuat penulis tertarik untuk mengkaji atau melakukan penelitian dengan topik keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba?

C.   Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah disebutkan di atas, peneliti ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.

D.   Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.    Memberi sumbangan pemikiran berupa inovasi dalam pembelajaran menulis paragraf.
2.    Sebagai masukan bagi guru bahasa Indonesia untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang paragraf deduktif dan kalimat utama dan kalimat penjelas, dan
3.    Memberi masukan bagi peneliti selanjutnya, khususnya tentang menulis paragraf dengan pola deduktif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A.   Tinjauan Pustaka
1.    Penalaran dalam Karangan
Suatu tulisan sebagai hasil proses bernalar mungkin merupakan hasil proses deduksi, indiksi atau gabungan keduanya. Dengan demikian suatu paparan dapat bersifat deduktif, induktif atau gabungan antara kedua sifat tersebut. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan/umum berupa kaidah, peraturan, teori, atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya, pernyataan itu akan dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian yang bersifat khusus. Sebaliknya, suatu tulisan yang bersifat induktif dimulai dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanya dimulai dengan pernyataan umum yang diikuti dengan rincian-rincian dan akhirnya ditutup dengan pengulangan pernyataan umum di atas.
Dalam praktek proses deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan-satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikembangkan dalam paragraf itu.  Dengan demikian ada paragraf deduktif dengan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif, dengan kalimat utama pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya (Arifin, 1999: 12).
Proses deduktif dan induktif itu juga diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan. Paragraf-paragraf deduktif dan induktif mungkin digunakan secara bergantian, bergantung kepada gaya yang dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang ingin diberikannya. Karya ilmiah merupakan sistensi antara proses deduksi dan induktif. Kedua proses itu terlihat secara jelas (Hadi, 1998: 32).

2.    Jenis-Jenis Penalaran
Sabarti (2001: 41) menjelaskan bahwa menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak tidur), kita selau berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata; kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berpikir yang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.
Proses orang belajar berbahasa selalu dimulai dengan urutan menyimak, berbicara, dan menulis. Meskipun posisi menulis disebut terakhir, wacana (untaian kalimat), (d) memilih kosakata yang tepat, dan (e) menggunakan ejaan yang benar.
Menulis paling tidak mengandung empat unsur. Keempat unsur itu meliputi, penulis sebagai penyampai pesan atau isi, saluran atau sarana, dan pembaca sebagai penerima pesan. Di samping itu, penulis juga mempunyai fungsi. Pertama, fungsi personal (ekspresi), yaitu tulisan yang cenderung tidak memperhatikan aspek struktur dan bersifat bebas. Kedua, fungsi transaksional (praktik) yaitu tulisan yang memperhatikan interaksi dunia dengan cara menuliskan cara menerapkan sesuatu. Ketiga, fungsi artistik (puitik), yaitu tulisan yang berisi ekspresi ide.
Tulisan yang baik untuk koheren, bebas dari kekeliruan, dan meiliki satu ide. Pola tulisan yang baik memperhatikan tiga hal. Pertama tujuan,. Pada tujuan ini difokuskan pada pertanyaan mengapa kita menulis? Apakah untuk memberi informasi, mempengaruhi, atau menggambarkan sesuatu untuk orang lain? Kedua, memperhatikan pendengar dan pembaca. Pada bagian pendengar dan pembaca ini difokuskan pad siapa yang akan mendengar dan membaca tulisan kita? Ketiga, memperhatikan tesis/maksud. Tesis/maksud di sini adalah apa yang akan kita sampaikan? Apakah tentang kesehatan, pendidikan, keluarga, peristiwa, dan sebagainya?
Kemampuan menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif yang menurunkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatubahasa yang dimengerti, sehingga orang lain dapat membaca sombol-simbol grafis itu (Tarigan, 2000: 21)
Menurut Oka (1989: 76) kemampuan menulis berbahasa Indonesia diartikan sebagai kemampuan dalam menggunakan bahasa Indonesia secara tertulis dalam mengungkapkan diri dan hasil kejiwaannya, menuturkan pengalaman, baik pengalam penulis maupun orang lain, dan memaparkan penghayatan penulis terhadap lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berfikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.

a.    Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi. Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas segala jumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat (Sabarti, 2001: 41)
Contoh:
Suatu lembaga kanker diAmerika melakukan studi tentang hubungan antara kebiasaan merokok dan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara 50 sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan merokok mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnya keadaan mereka diikuti terus menerus selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebab kematiannya, diperoleh data bahwa diantara 11.870 kematan yang dilaporkan 2.249 disebabkan kanker.
Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang merokok maupun yang tidak) ternyata angka kematian di kalangan penghisap rokok tetap jauh lebih tinggi dari pada yang tidak pernah merokok, sedangkan jumlah kematian pengisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kematian yang tidak pernah merokok.
Selanjutnya, dari data terkumpul itu terlihat adanya korelasi positif antara angka kematian dan jumlah rokok yang diisap setiap hari………………………………………………………………………………………………………………………………………………………...
Dari bukti-bukti yang terkumpul dapat dikemukakan bahwa asap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu ialah dengan tidak merokok sama sekali.

   Tulisan di atas memaparkan hubungan sebab akibat antara merokok dan kematian. Dari paparan itu dapat dilihat bagaimana proses bernalar itu terjadi. Mula-mula mereka megumpulkan data dari sejumlah orang laki-laki. Mereka itu dikelompokkan menurut kebiasaan merokoknya, mulai dari yang tidak pernah merokok sampai pada perokok berat. Selanjutnya perokok itu juga dibedakan antara yang penghisap rokok putih (sigaret) dan yang penghisap cerutu dan pipa. Dalam waktu yang cukup panjang mereka diamati. Kematian dan penyebabnya dicatat dan dianalisis. Dari bukti-bukti yang terkumpul ditarikah kesimpulan-kesimpulan sehubungan dengan masalahnya. Secara ringkas paparan di atas menggambarkan prose penalaran induktif. Proses itu dilakukan langkah demi langkah sehinggah sampai pada kesimpulan.

b.    Penalaran Deduktif
Djajasudarma (2005: 12) Deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya, apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan itu. Jadi sebenarnya, proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan/kesimpulan yang konsisten dengan pernyataan dasarnya. Sebagai contoh, kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya adalah amplikasi pernyataan “Bujur sangkar adalah segi empat yang sama sisi” (Sabarti, 2001: 41)
(1)  Suatu segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi tegak lurusnya bukan bujur sangkar.
(2)  Semua bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segi empat merupakan bujur sangkar.
(3)  Jumlah sudut dalam bujur sangkar ialah 360 derajat.
(4)  Jika sebuah bujur sangkar dibagi dua dengan garis diagonal akan terjadi dua segi tiga sama kaki.
(5)  Setiap tiga yang terbentuk itu merupakan segi tiga siku-siku.
(6)  Setiap segi tiga itu mempunyai dua sudut lancip yang besarnya 45 derajat.
(7)  Jumlah sudut dalam segi tiga itu 180 derajat.

Setiap pernyataan yang tecantum itu merupakan cara lain untuk mengungkapkan pernyataan di atasnya secara konsisten. Pernyataan (2) merupakan implikasi penyataan (1), pernyataan (3) merupakan implikasi pernyataan (2) dan seterusnya. Disinilah letang perbedaanya dengan penalaran induktif. Dalam penalaran induktif kesimpulan bukan merupakan implikasi data yang diamati; artinya, kesimpulan mengenai fakta-fakta yang diamati tidak tersirat di dalam fakta itu sendiri.
Dalam praktek, proses penulisan tidak dapat dipisahkan dari proses pemikiran/penalaran. Tulisan adalah perwujudan haisl pemikiran/penalaran. Tulisan yang kacau, mencerminkan pemikiran yang kacau. Karena itu, latihan keterampilan menulis pada hakikatnya adalah pembiasaan berpikir/bernalar secara tertib dalam bahasa yang tertib pula.

3.    Penalaran Deduktif dalam Karangan
Suatu tulisan sebagai hasil proses bernalar mungkin merupakan hasil proses deduksi, induksi atau gabungan keduanya. Dengan demikian suatu paparan dapat bersifat deduktif, induktif atau gabungan antara kedua sifat tersebut. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan/umum berupa kaidah, peraturan, teori, atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya, pernyataan itu akan dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian yang bersifat khusus. Sebaliknya, suatu tulisan yang bersifat induktif dimulai dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanya dimulai dengan pernyataan umum yang diikuti dengan rincian-rincian dan akhirnya ditutup dengan pengulangan pernyataan umum di atas.
Dalam praktek proses deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan-satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikembangkan dalam paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf deduktif dengan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif dengan kalimat utama pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya (Arifin, 1999: 12)
Proses deduktif dan induktif itu juga diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan. Paragraf-paragraf deduktif dan induktif mungkin dipergunakan secara bergantian, bergantung kepada gaya yang dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang ingin diberikannya. Karya ilmiah merupakan sistensi antara proses deduksi dan induktif. Kedua proses itu terlihat secara jelas (Hadi, 1998:32)
Sabarti (2001:41) menjelaskan bahwa menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak tidur), kita selalu berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkandali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berpikir yang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.
Djajasudarma (2005:12) menjelaskan bahwa deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya, apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan itu. Jadi sebenarnya, proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan/kesimpulan yang konsisten dengan pernyataan dasarnya. Sebagai contoh, kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya adalah implikasi pernyataan “Bujur sangkar adalah segi empat yang sama sisi” (Sabarti, 2004:41).
8)    Suatu segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi tegak lurusnya bukan bujur sangkar.
9)    Semua bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segi empat merupakan bujur sangkar.
10)  Jumlah sudut dalam bujur sangkar ialah 360 derajat.
11) Jika sebuah bujur sangkar dibagi dua dengan garis diagonal akan terjadi dua segi tiga sama kaki.
12) Segi tiga yang terbentuk itu merupakan segi tiga siku-siku.
13) Setiap segi tiga itu mempunyai dua sudut lancip yang besarnya 45 derajat
14) Jumlah sudut dalam segi tiga itu 180 derajat
Setiap pernyataan yang tercantum itu meupakan cara lain untuk mengungkapkan pernyataan di atasnya secara konsisten. Pernyataan (2) merupakan implikasi pernyataan (1), pernyataan (3) merupakan implikasi pernyataan (2), dan seterusnya. Disinilah letak perbedaannya dengan penalaran induktif. Dalam penalaran induktif kesimpulan bukan merupakan implikasi data yang diamati, artinya kesimpulan mengenai fakta-fakta yang diamati tidak tersirat di dalam fakta itu sendiri.
Dalam praktek, proses penulisan tidak dapat dipisahkan dari proses pemikiran/penalaran. Tulisan adalah perwujudan hasil pemikiran/penalaran. Tulisan yang kacau, mencerminkan pemikiran yang kacau. Karena itu, latihan keterampilan menulis pada hakikatnya adalah pembiasaan berpikir/nernalar secara tertib dalam bahasa yang tertib pula.
Apabila dilihat dari pola pengembangannya paragraf dikembangkan dengan tiga pola, yaitu (1) pola umum-khusus yang biasa disebut deduktif, (2) pola khusus umum yang biasa disebut dengan induktif, dan (3) pola umum-kuhusus-umum yang biasa disebut dengan campuran. Deduktif artinya kalimat utama ada pada posisi awal yang diikuti kalimat-kalimat penjelas. Induktif artinya kalimat utama ada pada posisi akhir dan didahului oleh kalimat-kalimat penjelas. Campuran artinya kalimat utama ada posisi awal dan diperjelas pada posisi akhir, kalimat-kalimat yang berada di antara kalimat utama itu disebut kalimat-kalimat penjelas.
Nafiah (1981:54) mengartikan penalaran deduktif adalah paragraf yang dimulai dari kalimat inti, kemudian diikuti uraian, penjelas, argumentasi, dan sebagainya. Dimulai oleh pernyataan yang bersifat umum, kemudian kalimat-kalimat berikutnya berusaha membuktikan pernyataan tersebut dengan meyebutkan hal-hal khusus, atau detail-detail seperlunya.
Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal paragraf. Gagasan utama atau pokok persoalan paragraf itu dinyatakan dalam kalimat paertama (Junanda dkk, 2005:435).
Sementara itu, Murtono dkk (1996:65) menyatakan bahwa paragraf deduktif adalah paragraf yang dimulai dari hal-hal yang umum (kalimat utama) menuju ke hal-hal khusus (kalimat-kalimat penjelas).
Dengan bahasa yang berbeda Rutbeyta (dalam ruitb3.ngeblogs.com/2009/10/23/paragraf…) mengartikan paragraf deduktif yaitu paragraf yang menampilkan kalimat utama atau kalimat topic pada awal paragraf, kemudian diikutim oleh kalimat-kalimat lain sebagai pengembangnya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif adalah paragraf dimulai dari hal-hal yang bersifat umum (kalimat utama) dan diikuti oleh hal-hal yang bersifat khusus (kalimat-kalimat penjelas). Apabila pola paragraf deduktif dalam bentuk bagan, maka bagan paragraf deduktif sebagai berikut:

UMUM
KHUSUS
KHUSUS
KHUSUS
 









4.    Sillogisme sebagai Penalaran Deduktif
Sabarti (2001:41) menjelaskan bahwa untuk menguji benar salahnya struktur deduktif, digunakan perangkat deduktif yang disebut sillogisme yang di dalamnya terdapat tiga bagian yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan. Berkaitan dengan hal tersebut, berikut akan disajikan contoh penalaran sillogisme.

Premis mayor   : Setiap makhluk hidup perlu makan dan minum
Premis minor    : Kucing adalah makhluk hidup
Kesimpulan      : Kucing perlu makan dan minum

Kebenaran simpulan akan diterima apabila kebenaran premis-premisnya pun diterima. Jika premis minornya berbunyi robot adalah makhluk hidup, misalnya, simpulan robot memerlukan makan dan minum tidak dapat dibenarkan karena premis minor tidak dapat diterima kebenarannya. Kenyataannya adalah bahwa robot tidak dapat digolongkan sebagai makhluk hidup.
Sehubungan dengan pola penalaran deduktif ini, dalam sebuah paragraf boleh jadi jadi tidak semua premisnya tampil secara eksplisit. Seringkali premis mayor atau premis minornya disembunyikan karena dianggap sudah diketahui oleh pembaca. Cara bernalar orang dalam kalimat saya adalah warga Negara yang baik sebab selalu bayar pajak tepat pada waktunya misalnya, dapat diurut kembali melalui pola sillogisme. Perhatikan contoh berikut.


Premis mayor       : Yang selalu membayar pajak tepat waktunya adalah warga Negara yang baik
Premis minor           :  Saya membayar pajak tepat pada waktunya
Simpulan                 :  Saya warga Negara yang baik



Pada contoh di atas premis mayor tidak dinyatakan. Yang dinyatakan hanyalah simpulan yang merupakan induk kalimat dan premis minor yang menjadi anak kalimat.

B.   Kerangka Pikir
Penelitian kerangka pikir merupakan pikiran bagi peneliti dalam memecahkan masalah penelitian, kerangka pikir dalam penelitian dikemukakan sebagai berikut.
Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang diajarkan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi. Hal ini dapat dinyatakan dalam standar isi mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen berbahasa (meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis) dan kemanpuan bersastra (Depdiknas, 2006).
Dalam standar isi mata pelajaran bahasa Indonesia untuk sekolah lanjutan terdapat dua belas standar kompetensi aspek menulis yang mesti dikuasai oleh siswa. Setiap semester terdapat dua standar kompetensi aspek menulis, masing-masing satu standar kompetensi menulis teks sastra dan satu standar komptensi menulis non sastra. Semua standar kompetensi aspek menulis tersebut menekankan pada kemanpuan siswa menulis paragraf. Hal ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran menulis, diharapkan agar siswa memiliki kemanpuan menulis yang memadai. Namun, harapan agar siswa memiliki kemanpuan menulis yang memadai masih rendah.
Dalam penelitian ini, kemanpuan menulis paragraf siswa dilakukan dengan menentukan atau menguji kemanpuan siswa menentukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf dengan pola mengembangkan deduktif.
Kerangka pikir tersebut dapat digambarkan dalam sebuah bagan, seperti pada gambar 1.

KETERAMPILAN MENULIS
PENALARAN DEDUKTIF
HASIL
SILLOGISME
KEMAMPUAN SISWA
 








C.    
D.    





Bagan Kerangka Pikir



C.   Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian adalah keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba memadai.

















BAB III
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan yang disajikan dalam bentuk deskriptif kuantitatif. Penggunaan metode lapangan secara deskriptif kuantitatif ini diharapkan keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba dapat terungkap secara akurat dalam bentuk kuantitatif.
      Metode dalam penelitian ini meliputi : variabel dan desain penelitian, defenisi operasional variabel, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

A.   Variabel dan Desain Penelitian
1.    Variabel penelitian
Menurut Arikunto (1992: 111), variabel adalah gejalah yang bervariasi yang menjadi objek penelitian. Variable yang diamati atau diukur dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia.




2.    Desain Penelitian
Secara objektif sesuai dengan hasil yang diperoleh di lapangan. Berdasarkan hasil tersebut, maka rancang penelitian ini dibuat berdasarkan prinsip merumuskan dan menyusun alat penjaring data. Alat penjaring data dalam penelitian ini adalah tes pemberian tugas.

3.    Defenisi Operasional Variabel
Seperti yang telah dikemukakan bahwa variable dalam penelitian ini keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia. Keterampilan dalam menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia yang dimaksud adalah kesanggupan siswa mengembangkan suatu gagasan yang dimulai oleh pernyataan bersifat umum, kemudian kalimat-kalimat berikutnya berusaha membuktikan pernyataan tersebut dengan menyebutkan hal-hal khusus, atau detail-detail seperlunya. Sillogisme adalah penalaran premis mayor dan premis minor yang diakhiri dengan kesimpulan atau konklusi.

4.    Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Kabupaten Bulukumba. Untuk memperjelas populasi dalam penelitian, maka dapat dilihat pada table berikut:
TABEL 1
KEADAAN POPULASI SISWA KELAS XI
SMA MUHAMMADIYAH

Kelas                  Perempuan                   Laki-laki                            Jumlah


  XI                         14                                   13                                            27

Sumber: Papan Potensi Tahun 2011

      Pada Tabel 1 tersebut, dapat terlihat jumlah populasi yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 27 siswa. Jumlah tersebut terdiri dari 14 perempuan dan 13 laki-laki.

2.    Sampel
Berdasarkan populasi yang telah diuraikan di atas, dapat diliat dengan jelas besarnya populasi penelitian ini adalah 27 siswa. Oleh karena itu penulis akan menetapkan sampel penelitian dari populasi yang diteliti dalam penelitian. Dengan demikian, dalam penelitian ini khususnya mengenai proses pengambilan sampel, penulis menetapkan jumlah populasi tersebut sebagai sampel penelitian secara keseluruhan. Jadi penelitian ini menggunakan sampel total. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan tingkat homogenitas dan penelitian.


D.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan penelitian dalam mengumpulkan yaitu teknik pemberian tugas. Pengumpulan data dengan tes dilakukan dengan cara tatap muka di kelas dengan memberikan soal sebanyak 10 nomor berbentuk menguraikan gagasan dalam bentuk sillogisme (dalam bentuk penalaran deduktif).

E.   Teknik Analisis Data
Data yang sudah dikumpulkan dan sudah diklasifikasikan akan dianalisis. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik persentase nilai siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas kemudian dibagi dengan jumlah siswa dan di kali dengan 100 %. Teknik ini digunakan untuk mengetahui siswa sudah mampu atau tidak didasarkan pada keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia.








BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.   Penyajikan Hasil Analisis Data
Pada bagian ini akan diuraikan data penelitian yang telah dikumpulkan sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya. Masalah yang menjadi sasaran penelitian adalah keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba. Berikut ini akan diuraikan data pelitian yang diperoleh siswa. Adapun data yang ditemukan dan hasil data yang dimaksud adalah sebagai berikut:


Tabel 2
Hasil Perolehan Skor dan Nilai Keterampilan Menguraikan Penalaran
Sillogisme pada Penalaran Deduktif dalam Bahasa Indonesia
Siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba


No
Kode Sampel
Skor Perolehan
Nilai
1
001
8
8
2
002
8
8
3
003
8
8
4
004
8
8
No
Kode Sampel
Skor Perolehan
Nilai
5
005
8
8
6
006
8
8
7
007
8
8
8
008
7
7
9
009
8
8
10
010
8
8
11
011
7
7
12
012
7
7
13
013
7
7
14
014
9
9
15
015
6
6
16
016
8
8
17
017
9
9
18
018
9
9
19
019
9
9
20
020
9
9
21
021
6
6
22
022
8
8
23
023
8
8
24
024
6
6
25
025
6
6
26
026
6
6
27
027
6
6
Sumber: Hasil Pengumpulan Data Siswa Sampel

Pada tabel 2 tersebut di atas cukup memperlihatkan dengan jelas skor yang diperoleh oleh siswa sampel. Skor perolehan siswa sampel tersebut merupakan salah satu indikator yang menunjukkan variasi keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba. Variasi nilai perolehan skor pada Tabel 2 di atas dapat dijadikan gambaran variasi tingkat keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.
Selanjutnya, untuk mengetahui dengan jelas keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba, akan diuraikan peringkat hasil tes siswa sampel berdasarkan skor perolehanyang dicapai. Selain itu, melalui peringkat skor tersebut dapat diketahui skor tertinggi yang diperoleh siswa sampel. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat dilihat pad Tabel 3 berikut ini.



Tabel 3
Peringkat Hasil Tes Keterampilan Menguraikan Penalaran Sillogisme Pada
Penalaran Deduktif Dalam Bahasa Indonesia

No
Kode Sampel
Skor Perolehan
Nilai
1
014
9
9
2
017
9
9
3
018
9
9
4
019
9
9
5
020
9
9
6
001
8
8
7
002
8
8
8
003
8
8
9
004
8
8
10
005
8
8
11
006
8
8
12
007
8
8
13
009
8
8
14
010
8
8
15
016
8
8
16
022
8
8
No
Kode Sampel
Skor Perolehan
Nilai
17
023
8
8
18
008
7
7
19
011
7
7
20
012
7
7
21
013
7
7
22
015
6
6
23
021
6
6
24
024
6
6
25
025
6
6
26
026
6
6
27
027
6
6
JUMLAH
205
RATA-RATA NILAI
7,59
Sumber:  Hasil Peringkat Tes Siswa Sampel
            Uraian data pada Tabel 3 di atas menggambarkan dengan jelas peringkat hasil tes keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba. Skor tertinggi yang diperoleh siswa sampel adalah 9 dengan perolehan nilai 9; sedangkan skor terendah yang diperoleh siswa sampel adalah 6 dengan perolehan nilai 6. Uraian tersebut secara tidak langsung menunjukkan bagaimana keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba. Skor terendah yang diperoleh siswa yaitu 6 dengan nilai 6 memperlihatkan bahwa di antara siswa samper tersebut, masih terdapat siswa yang kemampuannya membutuhkan perhatian. Meskipun demikian, nilai skor perolehan siswa sampel cukup memadai karena mayoritas yang memperoleh nilai di atas 7,59.

B.     Pembahasan
Sesuai dengan tabel skor dan nilai hasil tes keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba, dapat diketahui distribusi frekuensi kemampuan mereka. Uaraian Tabel 4 berikut ini, dapat diketahui dengan jelas distribusi frekuensi skor dan nilai siswa sampel dalam meningkatkan keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba.
Tabel 4 tersebut, menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah 9 dengan nilai 9 sebanyak 5 orang siswa dengan persentase 18,51%, sedangkan skor dengan frekuensi terbanyak adalah 8 dengan nilai 8 sebanyak 12 orang siswa dengan persentase 23,52%. Mengenai distribusi frekuensi kemampuan siswa, dapat dilihat pada uraian Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Skor dan Nilai Sampel
SKOR
Nilai
Frekuensi
Nilai

10
10
-

9
9
5
18,51
8
8
12
23,52
7
7
4
44,44
6
6
6
22,22
JUMLAH
27
100

Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas sebanyak 21 orang atau 77,78% sedangkan siswa yang memperoleh nilai di bawah 6,5 adalah 6 atau 22,22%. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa sampel adalah 7,86. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.







Tabel 5
Hasil yang Dicapai Siswa Sampel
Standar Kemampuan
Jumlah Siswa
Persentase

Di Atas 6,5
Di Bawah 6,5

21
6
77,78%
22,22%
Jumlah
27
100


Selanjutnya, berdasarkan criteria pengujian hipotesis, maka hipotesis dinyatakan diterima karena lebuh dari 85% yang diperolah nilai di atas 6,5 dari skala penilaian 1–10. Pernyataan simpulan pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6
Pernyataan Kesimpulan Pengujian Hipotesis
Keterampilan menuraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba memadai.


Hipotesis Ditolak
Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh 6,5 ke atas hanya mencapai 77,78%. Oleh karena itu, hipotesis dinyatakan ditolak.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A.   Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan tentang keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba, dapat diambil suatu simpulan bahwa siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas sebanyak 21 orang atau 77,78% sedangkan siswa yang memperoleh nilai di bawah 6,5 sebanyak 6 orang atau 22,22%. Hal ini membuktikan bahwa keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba belum memadai karena kurang dari 85% siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas.

B.     Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian keterampilan menguraikan penalaran sillogisme pada penalaran deduktif dalam bahasa Indonesia pada siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Bulukumba, penulis ingin memberikan saran-saran sebagai berikut:
1.    Pengajaran bahasa Indonesia di SMA hendakanya tetap diberikan perhatian yang serius pada siswa khususnya kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi.
2.    Perlunya pemahaman tentang metode pengajaran dalam meningkatkan keterampilan menulis di SMA
3.    Dalam melanjutkan penelitian ini, hendaknya dapat memilih keterampilan berbahasa yang lain sebagai objek penelitian yang betul-betul menarik perhatian calon peneliti sehingga kendala-kendala yang akan muncul dapat di atasi dengan baik.

















DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti dkk. 2001. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Ambo Enre, Fachruddin. 1998. Keterampilan Menulis. IKIP Ujung Pandang: BP IKIP Ujung Pandang.

Amiruddin. 2000. Isi dan Strategi Pengajaran Bahasa dan Sastra: Pendekatan Terpadu dan Pendekatan Proses. Malang: IKIP Malang.

Arifin. 1999. Keterampilan Menulis. Jakarta: Pustaka Setia.

Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia SMP. Jakarta: Depdiknas.

Djajasudarma, Fatimah. 2005. Menulis; Suatu Proses Penalaran. Jakatra: Gramedia.

Hadi, Nafiah. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan. Jakarta: Pustaka setia.

Juanda dkk. 2006. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Keraf, Gorys. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende Flores: Nusa Indah.

________2007. Argumentasi dan Narasi. Cetak Kelima Belas. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Cetakan Keempat. Jakarta: Gramedia.

Kurniawan. 2006. Keterampilan Mengarang, (online), (one, Indoskripsi.com/judul- skripsi..., diakses 12 Nei 2010).

Martodiwirjo. 2009. Defenisi Paragraf, (online), (Community.gunadarma.ac.id/blog/view/id.../title-definisi- paragraf..., Diakses 5 Mei 2010.)



Nafiah, A. H. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang? Surabaya: Usaha Nasional.

Oka, Gusti Ngurah. 1989. Pembinaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Parera, Jos Daniel. 1987. Menulis Tertib dan Sistematis. Jakarta: Erlangga.

Purwo. Bambang Kaswanti. 1990. Keterampilan Mengembangkan Karangan, (online), (one.indoskripsi.com/judul-skripsi..., diakses 12 Mei 2010).

Said D.M., M. Ide. 2008. Aspek Kebahasaan dan Tata Cara Penulisan. Makalah disajikan dalam rangka Workshop Penulisan Bahan Ajar Universitas Muhammadiyah Makassar, Tanggal 28 Desember 2008.

Soedjito dan Hasan, Mansur. 1990. Keterampilan Menulis Paragraf. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Sunardji dkk. 1989. Petunjuk Teknis Pengajaran Bahasa Indonesia di SMKTP. Jakarta: Proyek Peningkatan SMTP Kejuruan dan Teknologi.

Suyono. 2004. Cerdas Berpikir: Bahasa dan sastra Indonesia untuk Kelas I SMA. Jakarta: Ganeca Exact.

Tarigan, Henry Guntur. 2000. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

The Liang Gie. 2002. Terampil mengarang. Yokyakarta: ANDI Yogyakarta.